---WELCOME "SALAM PERSAHABATAN"---

Minggu, 30 Mei 2010

PENGANIAYAAN dalam TINDAK PIDANA

Secara umum tindak pidana terhadap tubuh pada KUHP disebut “penganiayaan”, mengenai arti dan makna kata penganiayaan tersebut banyak perbedaan diantara para ahli hukum dalam memahaminya. Penganiayaan diartikan sebagai perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit (pijn) atas luka (letsel) pada tubuh orang lain. (satochid kartanegara : 509)
Adapula yang memahami penganiayaan adalah “dengan sengaja menimbulkan rasa sakit atau luka, kesengajaan itu harus dicantumkan dalam surat tuduhan” (Soenarto Soerodibroto, 1994: 211), sedangkan dalam doktrin/ilmu pengetahuan hukum pidana penganiayaan mempunyai unsur sebagai berikut.
a. Adanya kesengajaan
b. Adanya perbuatan
c. Adanya akibat perbuatan (yang dituju), yakni
1. rasa sakit pada tubuh
2. luka pada tubuh
Unsur pertama adalah berupa unsur subjektif (kesalahan), unsur kedua dan ketiga berupa unsur objektif.

A. Kejahatan terhadap tubuh (Penganiayaan)
Kejahatan tindak pidana yang dilakukan terhadap tubuh dalam segala perbuatan-perbuatannya sehinnga menjadikan luka atau rasa sakit pada tubuh bahkan sampai menimbulkan kematian bila kita lihat dari unsur kesalahannya, dan kesengajaannya diberikan kualifikasi sebagai penganiayaan (mishandeling), yang dimuat dalam BAB XX Buku II, pasal 351 s/d 356.
Penganiayaaan yang dimuat dalam BAB XX II, pasal 351s/d 355 adalah sebagai beriku:
1. Penganiayaan biasa pasal 351 KUHP
2. Penganiayaan ringan pasal 352 KUHP
3. Panganiayaan berencana pasal 353 KUHP
4. penganiayaan berat pasal 354 KUHP
5. penganiayaan berat pasal 355 KUHP


Dari beberapa macam penganiayaan diatas kami mencoba untuk menjelaskaannya satu persatu :
1. Penganiayaan biasa pasal 351 KUHP
  pasal 351 KUHP telah menerangkan penganiayaan ringan sebagai berikut :
  1.  Penganiayaan dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupih.
  2. Jika perbuatan itu menyebabkan luka-luka berat, yang bersalah dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
  3. Jika mengakibatkan mati, dipidana dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun
  4. Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan 
  5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak di pidana.
Kembali lagi dari arti sebuah penganiayaan yang merupakan suatu tindakan yang melawan hukum, memang semuanya perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh subyek hukum akan berakibat kepada dirinya sendiri. Mengenai penganiayaan biasa ini merupakan suatu tindakan hukum yang bersumber dari sebuah kesengajaan. Kesengajaan ini berari bahwa akibat suatu perbuatan dikehendaki dan ini ternyata apabila akibat itu sungguh-sungguh dimaksud oleh perbuatan yang dilakukan itu. yang menyebabkan rasa sakit, luka, sehingga menimbulkan kematian. Tidak semua perbuatan memukul atau lainnya yang menimbulkan rasa sakit dikatakan sebuah penganiayaan.
Oleh karena mendapatkan perizinan dari pemerintah dalam melaksanakan tugas dan fungsi jabatannya. Seperti contoh: seorang guru yang memukul anak didiknya, atau seorang dokter yang telah melukai pasiennya dan menyebabkan luka, tindakan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai penganiayaan, karena ia bermaksud untuk mendidik dan menyembuhkan penyakit yang diderita oleh pasiennya. Adapula timbulnya rasa sakit yang terjadi pada sebuah pertandingan diatas ring seperti tinju, pencak silat, dan lain sebagainya.
Tetapi perlu digaris bawahi apabila semua perbuatan tersebut diatas telah malampui batas yang telah ditentukan karena semuanya itu meskipun telah mendapatkan izin dari pemerintah ada peraturan yang membatasinya diatas perbuatan itu, mengenai orang tua yang memukili anaknya dilihat dari ketidak wajaran terhadap cara mendidiknya.
Oleh sebab dari perbuatan yang telah melampaui batas tertentu yang telah diatur dalam hukum pemerintah yang asalnya pebuatan itu bukan sebuah penganiayaan, karena telah melampaui batas-batas aturan tertentu maka berbuatan tersebut dimanakan sebuah penganiayaan yang dinamakan dengan “penganiayaan biasa”. Yang bersalah pada perbuatan ini diancam dengan hukuman lebih berat, apabila perbuatan ini mengakibatkan luka berat atau matinya sikorban. Mengenai tentang luka berat lihat pasal 90 KUHP. Luka berat atau mati yang dimaksud disini hanya sebagai akibat dari perbuatan penganiayaan itu
         Mengenai tindakan hukum ini yang akan diberikan kepada yang bersalah untuk menentukan pasal 351 KUHP telah mempunyai rumusan dalam penganiayaan biasa dapat di bedakan menjadi:
1. Penganiayaan biasa yang tidak menimbulkan luka berat maupun kematian
2. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat
3. Penganiayaan yang mengakibatkan kematian
4. penganiayaan yang berupa sengaja merusak kesehatan.

2. Penganiayaan ringan pasal 352 KUPH
Disebut penganiayaan ringan Karena penganiayaan ini tidak menyebabkan luka atau penyakit dan tidak menyebabkan si korban tidak bisa menjalankan aktivitas sehari-harinya. Rumusan dalam penganiayaan ringan telah diatur dalam pasal 352 KUHP sebagai berikut:
1. Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, dipidana sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus

Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya atau menjadi bawahannya.

2. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Melihat pasal 352 ayat (2) bahwa “percobaan melakukan kejahatan itu (penganiyaan ringan) tidak dapat di pidana” meskipun dalam pengertiannya menurut para ahli hukum, percobaan adalah menuju kesuatu hal, tetapi tidak sampai pada sesuatu hal yang di tuju, atau hendak berbuat sesuatu dan sudah dimulai akan tetapi tidak sampai selesai. Disini yang dimaksud adalah percobaan untuk melakukan kejahatan yang bisa membahayakan orang lain dan yang telah diatur dalam pasal 53 ayat (1). Sedangkan percobaan yang ada dalam penganiyaan ini tidak akan membahayakan orang lain.

3. Penganiyaan berencarna pasal 353 KUHP
Pasal 353 mengenai penganiyaan berencana merumuskan sebagai berikut :
1. Penganiayaan dengan berencana lebih dulu, di pidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
2. Jika perbutan itu menimbulkan luka-luka berat, yang bersalah di pidana dengan pidana penjara palang lama tujuh tahun
3. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah di pidana dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

                Menurut Mr.M.H. Tiirtamidjaja Menyatakan arti di rencanakan lebih dahulu adalah : “bahwa ada suatu jangka waktu, bagaimanapun pendeknya untuk mempertimbangkan, untuk berfikir dengan tenang”.
Apabila kita fahami tentang arti dari di rencanakan diatas, bermaksud sebelum melakukan penganiayaan tersebut telah di rencanakan terlebih dahulu, oleh sebab terdapatnya unsur direncanakan lebih dulu (meet voor bedachte rade) sebelum perbuatan dilakukan, direncanakan lebih dulu (disingkat berencana), adalah berbentuk khusus dari kesengajaan (opzettielijk) dan merupakan alas an pemberat pidana pada penganiayaan yang bersifat subjektif, dan juga terdapat pada pembunuhan berencana (340).
Pekataan berpikir dengan tenang, sebelum melakukan penganiayaan, si pelaku tidak langsung melakukan kejahatan itu tetapi ia masih berfikir dengan bating yang tenang apakah resiko/akibat yang akan terjadi yang disadarinya baik bagi dirinya maupun orang lain, sehingga si pelaku sudah berniat untuk melakukan kejahatan tersebut sesuai dengan kehendaknya yang telah menjadi keputusan untuk melakukannya. Maksud dari niat dan rencana tersebut tidak di kuasai oleh perasaan emosi yang tinggi, was-was/takut, tergesa-gesa atau terpaksa dan lain sebagainya.
Penganiayaan berencana yang telah dijelaskan diatas dan telah diatur dala pasal 353 apabila mengakibatkan luka berat dan kematian adalah berupa faktor/alas an pembuat pidana yang bersifat objektif, penganiayaan berencana apabila menimbulkan luka berat yang di kehendaki sesuai dengan (ayat 2) bukan disebut lagi penganiayaan berencana tetapi penganiayaan berat berencana (pasal 355 KUHP), apabila kejahatan tersebut bermaksud dan ditujukan pada kematian (ayat 3) bukan disebut lagi penganiayaan berencana tetapi pembunuhan berencana (pasal 340 KUHP).

4. Penganiayaan berat pasal 354 KUHP
Penganiayaan berat dirumuskan dalam pasal 354 yang rumusannya adalah sebgai berikut :
1. Barang siapa sengaja melukai berat orang lain, dipidana kerena melakukan penganiayaan berat dengan pidana penjara paling lama delapan tahun
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah di pidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun.

Perbuatan berat (zwar lichamelijk letsel toebrengt) atau dapat disebut juga menjadikan berat pada tubuh orang lain. Haruslah dilakukan dengan sengaja. Kesengajaan itu harus mengenai ketiga unsur dari tindak pidana yaitu: pebuatan yang dilarang, akibat yang menjadi pokok alas an diadakan larang itu dan bahwa perbuatan itu melanggar hukum.
        Ketiga unsur diatas harus disebutkan dalam undang-undang sebagai unsur dari perbuatan pidana, seorang jaksa harus teliti dalam merumuskan apakah yang telah dilakukan oleh seorang terdakwah dan ia harus menyebukan pula tuduhan pidana semua unsur yang disebutkan dalam undang-undang sebagai unsur dari perbuatan pidana.
Apabila dihubungkan dengan unsur kesengajaan maka kesengajaan ini harus sekaligus ditujukan baik tehadap perbuatannya, (misalnya menusuk dengan pisau), maupun terhadap akibatnya, yakni luka berat. Mengenai luka berat disini bersifat abstrak bagaimana bentuknya luka berat, kita hanya dapat merumuskan luka berat yang telah di jelaskan pada pasal 90 KUHP sebagai berikut:
Luka berat berarti :
 Jatuh sakit atau luka yang tak dapat diharapkan akan sembuh lagi dengan sempurna atau yang dapat mendatangkan bahaya maut.
 Senantiasa tidak cakap mengerjakan pekerjaan jabatan atau pekerjaan pencaharian
 Didak dapat lagi memakai salah satu panca indra
 Mendapat cacat besar
 Lumpuh (kelumpuhan)
 Akal (tenaga faham) tidak sempurna lebih lama dari empat minggu
 Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan.

Pada pasal 90 KUHP diatas telah dijelaskan tentang golongan yang bisa dikatakan sebagi luka berat, sedangkan akibat kematian pada penganiayaan berat bukanlah merupakan unsur penganiayaan berat, melainkan merupakan faktor atau alasan memperberat pidana dalam penganiayaan berat.

5. Penganiayaan berat berencana pasal 355 KUHP
Penganiyaan berat berencana, dimuat dalam pasal 355 KUHP yang rumusannya adalah sebagai berikut :
1. Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, dipidana dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun
2. Jika perbuatan itu menimbulkan kematian yang bersalah di pidana dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Bila kita lihat penjelasan yang telah ada diatas tentang kejahatan yang berupa penganiayaan berencana, dan penganiayaan berat, maka penganiayaan berat berencana ini merupakan bentuk gabungan antara penganiayaan berat (354 ayat 1) dengan penganiyaan berencana (pasal 353 ayat 1), dengan kata lain suatu penganiayaan berat yang terjadi dalam penganiayaan berencana, kedua bentuk penganiayaan ini haruslah terjadi secara serentak/bersama. Oleh karena harus terjadi secara bersama, maka harus terpenuhi baik unsur penganiayaan berat maupun unsur penganiayaan berencana.
KUHP POKOK

- PASAL 10 :TENTANG PIDANA POKOK DAN TAMBAHAN.
- PASAL 53 : PERCOBAAN KEJAHATAN
- PASAL 104 : TENTANG PENYERANGAN ATAU MAKAR
- PASAL 130 : KEJAHATAN THDP KEAMANAN NEGARA
- PASAL 131 : KEJAHATAN THDP MARTABAT PRESIDEN DAN WAPRES
- PASAL 140 : KEJAHATAN POLITIK
- PASAL 187 : PEMBAKARAN
- PASAL 170 : PENGEROYOKAN
- PASAL 209 : MEMBERI SUAP
- PASAL 241 : PEMBUNUHAN TERHADAP ANAK
- PASAL 242 : SUMPAH PALSU DAN KETERANGAN PALSU
- PASAL 244 : PEMALSUAN MATA UANG
- PASAL 254 : PEMALSUAN MATERAI,SURAT / MEREK
- PASAL 281 : KEJAHATAN KESUSILAAN
- PASAL 285 : PEMERKOSAAN
- PASAL 300 : MINUMAN KERAS
- PASAL 303 : PERJUDIAN
- PASAL 304 : PEMBIARAN/MENINGGALKAN ORG YANG PERLU DITOLONG
- PASAL 310 : PENGHINAAN
- PASAL 311 : MENFITNAH
- PASAL 315 : PENGHINAAN RINGAN
- PASAL 328 : PENCULIKAN
- PASAL 338 : PEMBUNUHAN BIASA
- PASAL 340 : PEMBUNUHAN BERENCANA
- PASAL 352 : PENGANIAYAAN RINGAN
- PASAL 362 : PENCURIAN BIASA
- PASAL 363 : PENCURIAN DENGAN PEMBERATAN
- PASAL 364 : PENCURIAN RINGAN
- PASAL 365 : PENCURIAN DENGAN KEKERASAN
- PASAL 368 : PEMERASAN
- PASAL 372 : PENGGELAPAN BIASA
- PASAL 374 : PENGGELAPAN BERENCANA
- PASAL 378 : PENIPUAN
- PASAL 406 : PENGRUSAKAN
- PASAL 480 : PENADAHAN
- PASAL 485 : PELANGGARAN KUHP

Pengetahuan Awal dan Pengalaman


Soal :
1.      Apa yang dimaksud dengan pengalaman dan pengetahuan awal? Berikan contoh
2.      Apa artinya mis konsepsi? Mengapa Miskonsepsi bisa bersifat konsisten dan labil?
3.      Apa artinya konflik kognitif, berikan contohnya?
4.      Bagaimana pengetahuan interpersonal dibangun untuk mengurangi miskonsepsi/ membangaun konsep yang lebih terstruktur?
5.      Apa artinya konsepsi ilmiah?
6.      Bagaimana prosedur membangun konsep ilmiah?

Jawaban

1.      Pengalaman (experience) adalah suatu yang menyangkut segala yang kita lakukan atau apa saja yang terjadi pada kita baik menyangkut sensasi, emosi, rasa sakit, pengalaman estetik dan penglaman mistik. Dimana pengalaman tidak sama dengan pengetahuan awal. Pengetahuan tidak berfungsi mengandakan pengalaman, tapi mendeskripsikannya. Pengetahuan tidak berfungsi mereproduksi apa yang terjadi tapi menjelaskannya. 
Misalnya : Tahu apa itu marah (knowing what anger is) tidak sama dengan menjadi marah (Being angry), Menikmati anggur tidak sama dengan tahu komposisi anggur.
Dari hal tersebut jelas bahwa antara pengetahuan awal merupakan suatu ilmu awal yang dimiliki oleh seseorang akan sesuatu objek/kejadian namun belum tentu dia mengalaminya. Namun antara pengalaman dan pengetahuan bukan saling berkopetisi. Pengalaman bisa menjadi insentif untuk memperoreh pengetahuan tersebut atau menjadi bukti untuk pengetahuan tertentu atau menjadi objek pengetahuan .  

2.      Miskonsepsi merupakan suatu perbedaan konsep/pandangan yang terjadi baik antar individu, individu dengan kelompok dan antar kelompok terhadap suatu objek/masalah yang sama. 
Miskonsepsi bisa bersifat konsisten apabila terjadi penguatan argumen sesuai dengan data-data yang sebenarnya baik melalui penelitian, pengalaman serta observasi (data factual dan outentik) sehingga miskonsepsi tersebut menjadi tetap/ kaku. Dan Miskonsepsi tersebut akan menjadi labil apabila factor penguat konsep tersebut tidak ada sehingga menjadi labil/goyah dan kecendrungan miskonsepsi tersebut akan perlu pengkajian lebih mendalam baik melalui konsep ilmiah sebagai pembuktian konsep tersebut (labil menjadi stabil).


Bila digambarkan sebagi berikut :


                                                                          
                           Miskonsepsi                                                             Miskonsepsi


          
    +         +    _      +                                                         +      _      _    +
  

Konsep     konsep   konsep    konsep                         Konsep     konsep   konsep    konsep
                
a.      Miskonsepsi bersifat konsisten                               b.  Miskonsepsi bersifat labil

3.      Konflik kognitif merupakan suatu pertentangan pemikiran akan objek/kejadian/masalah yang sama, sehingga akan banyak terjadi argument-argumen penguat akan permasalahan tersebut. Seperti gambar diatas dijelaskan bahwa adanya konsep-konsep yang berbeda akan suatu objek yang sama (seperti gambar: ada konsep + dan konsep -). Hal inilah yang menimbulkan adanya konflik kognitif demi mencapai kesimpulan dan kebenaran yang sebenarnya baik melalui observasi dan penelitian ilmiah akan permasalahan tersebut sehingga menemukan kunci dari konflik kognitif tersebut dan diterima kesimpulan.
Contoh : misalnya perdebatan bahwa pembelajaran PKn lebih bagus dan efektif bila menggunakan metode kooperatif dibandingkan metode  konvensional yang memandang gurulah menjadi sumber ilmu. Dalam hal ini akan ada argument-argumen (pro dan kontra) akan kedua metode tersebut. Pertentangan pemikiran inialah yang disebut dengan Konflik kognetif.
4.      Pengetahuan interpersonal merupakan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang individu dengan individu lainnya baik yang didapatkan melalui pengalaman pribadi yang didapatkan atau melaui proses pembelajaran. Pengetahuan interpersonal ini dibangun berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sehingga mampu membangun konsep yang lebih tersruktur serta dalam proses tersebut disertai juga data-data factual sehingga mampu mengurangi miskonsepsi.
5.      Konsepsi bersifat ilmiah merupakan suatu pandangan atau pemikiran akan suatu masalah/ objek yang dapat dibuktikan kebenaranya. Konsep ilmiah ini didapatkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan sendiri atau dilakukan oleh ilmuan yang lain sehingga konsepsi tersebut memiliki suatu kekuatan khususnya dalam bidang factual dan pembuktian kebenaran. Konsepsi ilmiah memiliki cirri sebagai berikut :
·         Bertujuan untuk menemukan kebenaran
·         Kebenaran tersebut harus sesuai antara konsep dan faktanya
·         Hubungan antara pernyataan dengan kenyataan bersifat logis



6.      Prosedur membangun Konsep ilmiah
Dalam membangun konsep ilmiah ada beberapa tahap/fase yang harus diperhatikan sehingga konsep tersebut tidak mengalami kontroversi dan pertentangan konsep. Hal pertama yang harus diperhatikan yaitu adanya penggambaran konsep atau penjelasan konsepsi tersebut secara umum. Setelah hal tersebut akan ada tahap analisa yang fokus akan mencari hal-hal yang dibutuhkan untuk merealisasikan konsep tersebut.
Suatu konsep ilmiah pada hakekatnya harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu : adanya objek (hal yang dipikirkan), ada metode (cara mencari kebenaran), harus sistematis (berpikir secara lurus dan logis)

Bila digambarkan sebagai berikut :

Rounded Rectangle: KONSEPSI                                                 Focus pada : Penggambaran konsep secara umum

Rounded Rectangle: ANALISA


                                                  Fokus pada : mencari hal-hal yang dibutuhkan untuk merealisa-
                                                                        sikan konsep (objek dan metode)

Rounded Rectangle: PENELITIAN                                                   Fokus pada : pencarian fakta-fakta dan kebenaran


Rounded Rectangle: EVALUASI


                                                   Fokus pada : evaluasi dan kesimpulan akan konsep
                                                                         tersebut