---WELCOME "SALAM PERSAHABATAN"---

Kamis, 08 April 2010

Metode jigsaw sebagai metode pengajaran yang mernarik

PROPOSAL PENILITIAN

Judul : Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw terhadap Prestasi belajar PKn siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Semarapura
Identitas Peneliti :
Nama : Kadek Dony Wiputra
Nim : 0714041044
Kelas : B
Jurusan : PPKn


A. Latar Belakang Masalah
Reformasi merupakan istilah yang amat popular pada masa krisis ini dan menjadi kunci dalam membenahi seluruh tatanan hidup berbangsa dan bernegara di tanah air tercinta ini termasuk reformasi di bidang pendidikan. Pendidikan tidak memiliki titik henti yang sudah pasti terminalnya, tetapi merupakan sebuah roda yang terus berputar seiring dengan denyut kehidupan itu sendiri.
Pendidikan Nasional di Indonesia menurut Undang-Undang RI no.20 tahun 2003 ,bab I Pasal 1 (1) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri kepribadian kecerdasan , akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya , masyarakat, bangsa dan Negara.
UNESCO menjelaskan bahwa pendidikan pada abad ini harus diorientasikan terhadap pencapaian 4 pilar pembelajaran yaitu : (1) Learning to know (belajar untuk tahu), (2) learning to do (belajar untuk melakukan) , (3) Lerning to be (belajar untuk menjadi diri sendiri) (4) learning to live together (belajar bersama dengan orang lain) (Liza, 2007:1)
Dalam proses belajar mengajar di sekolah khusunya untuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harus senantiasa berorientasi pada 4 pilar pembelajaran tersebut. (1) Learning to know pembelajaran PKn disekolah salah satunya diharapkan siswa mengetahui tentang Negara dan warga Negara beserta sistem hubungannya, (2) learning to do tahapan berikutnya diharapkan siswa mampu mengetahui hak dan kewajibannya selaku warga Negara terhadap negaranya. , (3) Lerning to be tahapan berikutnya siswa belajar untuk menjadi diri sendiri selaku warga negara yang baik dan (4) learning to live together belajar bersama dengan orang lain mampu berinteraksi selaku makhluk sosial.
Untuk mendapatkan hasil dari proses pendidikan yang maksimal tentunya diperlukan pemikiran yang kreatif dan inovatif serta didukung dengan factor pendanaan yang mencukupi. Inovasi pendidikan tidak hanya pada inovasi sarana dan prasarana pendidikan serta kurikulum saja melainkan juga proses pendidikan itu sendiri.
Inovasi dalam proses pembelajaran sangat diperlukan guna meningkatkan prestasi kearah yang maksimal. Inovasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran dan metode pembelajaran..
Anak yang cerdas, bukan saja anak yang nilai ulangannya baik, nilai rapornya tinggi, tapi emosional dan fungsi motoriknya berjalan dengan baik
Seorang guru yang baik dapat menciptakan iklim belajar dan mengajar yang sehat dan menyenangkan kelasnya sehingga bisa memberikan dorongan kepada para siswanya agar mempunyai motivasi yang tinggi , dan memberikan dorongan yang positif. Karenanya guru harus mengetahui model-model pembelajaran sebagai bagian dalam perencanaan mengajarnya, agar siswa dapat memahami yang berikan oleh gurunya secara seksama
Metode mengajar yang dilakukan oleh guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam keberhasilan pendidikan. Penggunaan metode yang tepat akan menentukan keefektifan dan keefisienan dalam proses belajar mengajar. Guru harus senantiasa mampu memilih dan menerapkan metode mengajar yang tepat sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Terdapat beberapa metode yang telah lama digunakan oleh para guru antara lain ; meode ceramah, metode tanya jawab, dan metode resitasi. Serentetan metode tersebut bisa dikatakan metode konvensional.
Model pembelajaran konvensional yang selama ini digunakan oleh sebagian besar guru dalam mengajar sudah tidak sesuai dengan tuntutan jaman, karena pembelajaran yang dilakukan kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk aktif mengkonstruksi pengetahuannya.
Salah satu model pembelajaran yang dimungkinkan mampu mengantisipasi kelemahan model pembelajaran konvensional adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Pembelajaran model ini lebih meningkatkan kerja sama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam suatu perencanaan kegiatan. Dalam pembelajaran ini setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling bekerja sama dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun pada kelompoknya..
Dengan latar belakang di atas penulis mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe JIGSAW terhadap Prestasi Belajar PKn Pada siswa SMP Negeri 1 Semarapura”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas dapat dipaparkan identifikasi berbagai masalah yang mungkin terjadi yaitu :
1. Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada Siswa SMP negeri 1 Semarapura
2. Dimungkinkan terdapat perbedaan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan antara siswa yang mengikuti pelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan siswa yang mengikuti pelajaran dengan metode pembelajaran konvensional.
3. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sesuai untuk diterapkan pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. sehingga dimungkinkan prestasi belajar siswa yang mengikuti pelajaran dengan model ini lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pelajaran dengan model konvensional atau dengan kata lain dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar balakang, identifikasi dan pembatasan masalah tersebut di atas maka dapat penulis rumuskan permasalahan yang akan diteliti yaitu :
1. Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan yang signifikan antara siswa yang mengikuti pelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan siswa yang mengikuti pelajaran dengan sistem pembelajaran konvensional pada siswa SMP negeri 1 Semarapura tahun ajaran 2010/ 2011 ?
2. Bagaimana respon (Keterampilan sosial) belajar siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap prestasi belajar Pendidikan dan kewarganegaraan?

D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui apakah terdapat perbedaan prestasi belajar Bahasa Inggris antara siswa yang mengikuti pelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan siswa yang mengikuti pelajaran dengan sistem pembelajaran konvensional pada SMP negeri 1 Semarapura Tahun Pelajaran 2010/2011?
2. Mengetahui apakah respon (Keterampilan sosial) belajar siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap prestasi belajar Pendidikan dan kewarganegaraan
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan dunia pendidikan. Manfaat tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Sebagai masukan bagi guru dalam menentukan metode mengajar yang tepat dan menguntungkan bagi guru maupun siswa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
2. Sebagai masukan kepada sekolah untuk senantiasa memberikan inovasi sarana dan prasarana pendidikan yang mendukung inovasi pembelajaran.
3. Sebagai bahan informasi tentang pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
4. Sebagi bahan referensi ilmiah untuk peneliti berikutnya yang sejenis.

F. KAJIAN TEORI
• Diskripsi Teori
1. Pengertian Belajar
Pendidikan Nasional di Indonesia menurut Undang-Undang RI no.20 tahun 2003 ,bab I Pasal 1 (1) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri kepribadian kecerdasan , akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya , masyarakat, bangsa dan Negara.
Dalam bahasa arab pendidikan disebut “tarbiyah” yang berarti proses persiapan dan pengasuhan manusia pada fase-fase awal kehidupannya yaitu pada tahap perkembangan masa bayi, dan kanak-kanak.
Pendidikan menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sekolah dan kelas merupakan komunitas pelajar yang dibawa untuk mengeksplorasi dunia dan dinavigasi secara produktif, mereka diharapkan berilmu yang tinggi dan berdedikasi , serta berketerampilan yang tinggi.
Belajar merupakan suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman/ pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku . Belajar adalah modifikasi atau kekuatan melalui pengalaman belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu yaitu mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kekuatan. Belajar adalah suatu proses penambahan tingkah laku individu secara keseluruhan melalui interaksi dengan lingkungannya (Oemar Hamalik, 1995: 36-37).
Pendapat Morgan yang dikutip oleh Ngalim Purwanto (1990 : 84) : “Belajar adalah setiap perubahan yang relative tetap dalam waktu yang lama, dan tingkah laku tersebut merupakan hasil dari pengalaman atau latihan”. Menurut Gagne yang juga dikutip oleh Ngalim Purwanto (1990 : 84) : “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian sehingga perbuatannya berubah diri waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.
Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku, baik yang diamati maupun yang tidak diamati secara langsung yang terjadi dalam diri seseorang karena pengalaman (Dimyati Mahmud, 1999: 121-122).
Definisi di atas menunjukkan bahwa seseorang dikatakan belajar jika di dalam diri seseorang itu terjadi perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh adanya rangsangan dan ingatan. Rangsangan tersebut dapat berupa informasi dan pengetahuan baru.
Pendapat lain dikemukakan oleh Wingkel (1996 : 82 ) : “Belajar adalah aktifitas mental (psikis) yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat konstan dan berbekas”. Kesimpulan dari pendapat ini bisa dikatakan pula bahwa perubahan tingkah laku dari hasil belajar melibatkan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan ketrampilan (psikomotorik).
Belajar memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri sebagai berikut :
a. Belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sengaja yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar baik aktual maupun potensial.
b. Perubahan ini pada pokoknya didapatkan pengetahuan baru yang berlaku dalam waktu yang relative lama.
c. Perubahan ini karena usaha, bukan karena kematangan.
Dari pengertian-pengertian belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sengaja yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku, baik potensial maupun aktual. Perubahan-perubahan itu berbentuk kemampuan-kemampuan baru yang dimiliki dalam waktu yang relatif lama (konstan), serta perubahan-perubahan tersebut terjadi karena usaha sadar yang dilakukan oleh individu yang sedang belajar. Seseorang dapat dikatakan telah belajar apabila pada dirinya telah terjadi perubahan baik pengetahuan, pemahaman, penalaran, keterampilan, kecakapan dan sebagainya dalam waktu yang cukup lama dan akan lebih mampu berinteraksi dengan lingkungan.

2. Prestasi Belajar
Thulus Hidayat (1995: 92) yang memberikan pengertian prestasi belajar adalah kemampuan nyata yang dicapai oleh murid-murid dalam proses belajarnya. Dewa Kehet Setiadi (1994: 2) mendefinisikan “Prestasi merupakan penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan pada mereka, serta nilai-nilai yang tercantum dalam kurikulum”.
Menurut Thulus Hidayat (1992) ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu: 1) Faktor yang berasal dari dalam diri siswa terdiri dari: Kesehatan jasmani, kecerdasan, minat, bakat, kematangan dan kesiapan. 2) Faktor dari luar diri siswa terdiri dari : cara mengajar/ strategi pembelajaran/ metode mengajar guru, kurikulum, fasilitas belajar, hubungan sosial, suasana belajar dan kedisplinan.
Adalah menjadi kewajiban bagi pendidik untuk mengetahui model-model pembelajaran, karena teaching mode adalah suatu system mengajar yang dibuat sedemian rupa dijadikan pedoman perencanaan, pelaksanaan , dan evaluasi.
Dalam pendidikan kita mengenal istilah mengajar, menurut Hamalik seperti yang dikutip oleh syafaruddin mengajar adalah pemberian bimbingan kepada siswa untuk belajar atau menciptakan lingkungan atau kemudahan bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Disini guru berusaha memfungsikan seluruh sub system pengajaran dalam mencapai tujuan Guru adalah motivator untuk mempengaruhi siswa melakukan kegiatan belajar. Untuk memberikan pengaruh dan bimbingan dalam konteks mengajar, guru sebagai pemimpin melakukan dua usaha utama: (1) memperkokoh motivasi siswa (2) memilih strategi mengajar yang tepat.
Davis membagi motivasi kepada dua jenis yaitu: (1) Motivasi intrinsik yang mengacu kepada factor-faktor dari dalam , tersirat baik dari tugas itu sendii maupun pada diri siswa, motivasi intrinsic merupakan pendorong bagi aktivitas dalam pengajaran dan dalam pemecahan soal . Keinginan untuk menambah pengetahuan dan untuk menjelajah pengetahuan merupaan factor intrinsik semua orang. (2) Motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang mengacu kepada factor-faktor dari luar dan ditetapkan pada tugas atau pada diri siswa oleh guru atau orang lain, Motivasi ekstrinsik dapat berupa penghargaan , pujian , hukuman atau celaan.
Prestasi yang dicapai oleh siswa dalam belajar merupakan sumber informasi untuk mengambil suatu keputusan. Hal ini sesuai dengan pendapat Saifudin Anwar (1996: 96). “Tes prestasi belajar merupakan salah satu alat pengukuran yang sangat penting artinya sebagai sumber informasi guna mengambil suatu keputusan oleh pengajar”.

3. Model Pembelajaran
Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran. Oleh karena itu peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses pembelajaran (Nana Sudjana, 1989 : 76).
Metode mengajar merupakan salah satu cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan sesuatu pada saat berlangsungnya pembelajaran (Suryo Subroto , 1997 : 43). Banyak metode mengajar yang dapat ditempatkan dalam strategi pembelajaran. Antara lain metode Tanya jawab, metode diskusi, simulasi, pemberian tugas dan lain-lain.
Models of Teaching merupakan perencanaan yang dapat digunakan sebagai pola face to face/saling berhadapan dalam pengajaran di kelas, atau pengaturan dalam tutorial atau bentuk dari bahan-bahan instruksional. Termasuk buku-buku. Film, tapes, computer, kurikulum . setiap models di desian untuk membantu siswa mendapatkan bermacam-macam hasil
Menurut Bruce Joyce ( 2005 : 1) Models of teaching atau model pembelajaran adalah model pelajaran , untuk membantu siswa mendapatkan informasi , ide, keterampilan, nilai-nilai, kemampuan berfikir , dan dapat mengaktualisasi diri , juga diajarkan kepada siswa bagaimana belajar yang efektif dan sistematis sehingga kedepan dihasilkan siswa yang dapat meningkatkan kemampuannya belajar lebih mudah dan efektif dalam keilmuan dan keterampilan , karena mereka sudah memdapat proses pembelajaran yang tuntas. Models of teaching are really models of learning. As we help students acquire information , ideas, skills, values, ways of thingking, and means of expressing themselves, we are olso teaching them how to learn. In fact the most importand long term out come of instruction may be the students increased capabilities to learn more easily, and effectively in the future, both because of the knowledge and skill they have acquired and because they have mastered learning process. (Liza, 2007: 5).
Jadi keberadaan model pengajaran adalah berfungsi membantu siswa memperoleh informasi, gagasan, keterampilan, nilai-nilai, cara berfikir, dan pengertian yang diekspresiakan mereka. Karena itu posisi guru adalah mengajar siswa bagaimana cara belajar . Untuk jangka panjang sebenarnya pembelajaran harus menciptakan iklim yang memungkinkan siswa meningkatkan kemampuan pembelajaran yang lebih mudah dan efektif pada masa depan. Sebab pengertian dan keterampilan diperoleh mereka dengan baik apabila mereka sudah melakukan pembelajaran tuntus(mastering learning), Jadi pembelajaran tuntas merupakan salah satu metode pembelajaran seperti halnya model pembelajaran bersama (cooperative learning).
Models pembelajaran ini membutuhkan guru yang berpengalaman mengarahkan siswanya, didukung oleh sumber pengetahuan yang memadai seperti buku, perpustakaan ,internat sehingga dapat membuka wawasan siswa , memotivasi mereka untuk mencari, menggali informasi, dan saling bekerja sama dengan temannya, sehingga timbul kreatifitas yang dapat menambah pengetahuan dan keterampilannya dikemudian hari dalam masyarakat
Model pembelajaran adalah bantuan alat-alat yang mempermudah siswa relajar.Tujuan proses mengajar secara ideal adalah agar bahan-bahan dipelajari dikuasai murid sepenuhnya ini disebut Mastery Learning (belajar tuntas).
Jadi keberadaan model pengajaran adalah berfungsi membantu siswa memperoleh informasi, gagasan, keterampilan, nilai-nilai, cara berfikir, dan pengertian yang diekspresiakan mereka. Karena itu posisi guru adalah mengajar siswa bagaimana cara belajar . Untuk jangka panjang sebenarnya pembelajaran harus menciptakan iklim yang memungkinkan siswa meningkatkan kemampuan pembelajaran yang lebih mudah dan efektif pada masa depan. Sebab pengertian dan keterampilan diperoleh mereka dengan baik apabila mereka sudah melakukan pembelajaran tuntus(mastering learning), Jadi pembelajaran tuntas merupakan salah satu metode pembelajaran seperti halnya model pembelajaran bersama (cooperative learning).
Winarno Surakhmad (1986:97) mengemukakan bahwa pemilihan metode mengajar dalam proses belajar mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
a. Murid, pelajar (dengan berbagai tingkat kematangan)
b. Tujuan (dengan berbagai jenis dan fungsinya)
c. Situasi (dengan berbagai keadaan)
d. Fasilitas (dengan berbagai kualitas dan kuantitas)
e. Pengajar atau guru (yang pribadi serta kemampuan profesionalnya berbeda-beda).
Dengan memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi dalam memilih metode mengajar tersebut dapat kita pahami bahwa masalah metode mengajar adalah masalah yang sangat kompleks, artinya sebaik apapun metode mengajar tidak ada satu pun metode mengajar yang terbaik.
Dari uraian di atas kita sadari bahwa memilih/ menetukan metode mengajar merupakan suatu hal yang harus terpikirkan baik-baik untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.
4. Metode Pembelajaran Konvensional
Menurut W.J.S. Poerwodarminta (1984 : 522) “konvensional adalah menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan, tradisional”. Tradisional diartikan sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun menurun.
Teknik pembelajaran konvensional adalah resitasi atau pengucapan hafalan. Pada pembelajaran konvensional mungkin diadakan beberapa kali pengulangan pelajaran yang pernah diberikan, yang digunakan untuk meneliti hal-hal yang sebelumnya telah disajikan dan diadakan satu atau beberapa ujian tertulis. Cara mengajar tradisional yang pada suatu ketika menjadi universal dalam garis besarnya dilakukan menurut pola buku tuas resitasi (Mursell dan Nasution, 1990 : 15).
Metode mengajar yang bisa dikatakan metode konvensional adalah metode ceramah. Sesuai dengan pendapat Syaiful Bahri dan Aswan Zain (1994 :109) metode ceramah adalah metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses pembelajaran. Meski metode ini lebih banyak menuntut keaktifan guru daripada anak didik, tetapi metode ini tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan pengajaran, apalagi dalam pendidikan dan pengajaran tradisional, seperti di pedesaan yang kekurangan fasilitas.
Syaiful Bahri dan Aswan (2002 : 110) mengemukakan bahwa metode ceramah memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan metode ceramah adalah sebagai berikut :
1) Guru mudah menguasai kelas
2) Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas
3) Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar
4) Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya
5) Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
Kelemahan metode ceramah adalah :
1) Mudah menjadi verbalisme ( pengertian kata – kata).
2) Aspek visual menjadi kurang, yang auditif (mendengar) lebih besar.
3) Bila selalu digunakan dan terlalu lama akan membosankan.
4) Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya ini sukar sekali.
5) Menyebabkan siswa menjadi pasif.
Metode ceramah mengakibatkan aktifitas belajar didominasi guru. Siswa dapat dikatakan pasif karena kegitan yang dilakukan adalah duduk, mendengarkan dan mencatat. Guru kesulitan mengetahuai secara langsung kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam belajar karena penyampaian materi searah. Metode ini cenderung cepat membosankan sehingga guru yang memakai metode ini harus pandai menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa sehingga siswa tidak cepat bosan.

5. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
a. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang diyakini keberhasilan peserta didik tercapai jika setiap anggota kelompoknya berhasil. Sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk kerja sama dengan temannya dalam tugas-tugas terstruktur disebut sebagai sistem pembelajaran gotong royong atau cooperative learning (Lie Anita, 2002: 27).
Sistem pembelajaran gotong royong merupakan alternatif menarik yang bisa mencegah timbulnya keagresifan dalam sistem kompetisi dan ketersaingan dalam sistem individu tanpa mengorbankan aspek kognitif (Lie Anita, 2002: 27).
Menurut Siti Maesuri (2000 : 1) pada dasarnya pembelajaran kooperatif adalah suatu proses sederhana tetapi berbeda dengan pembelajaran tradisional dan operasi kelas tradisional. Dalam suatu kelas kooperatif, guru mengorganisasikan kurikulum sekitar tugas atau proyek siswa dalam kelompok kecil.
Peserta didik dalam suatu kelas merupakan bagian dari suatu kelompok besar, motivasi yang diharapkan dari belajar kelompok terfokus pada tujuan yang dilaksanakan oleh peserta didik.
Menurut Lie Anita, (2002: 27). Terdapat tiga macam struktur pencapaian tujuan dalam pembelajaran kooperatif yaitu :
1) Kooperatif (kerja sama), peserta didik lain juga akan mencapai tujuan tersebut.
2) Kompetitif (persaingan), peserta didik yakin mereka mencapai tujuannya jika dan hanya jika peserta didik lain juga mencapai tujuan tersebut.
3) Individualistik (perseorangan), peserta didik yakin dengan upayanya sendiri akan mencapai tujuan dan tidak ada hubungannya dengan upaya peserta didik lain dalam mencapai tujuan tersebut.
Pada kelas kooperatif, peserta didik dalam belajar dalam kelompok-kelompok kecil terdiri dari 4 – 5 orang. Tiap kelompok merupakan campuran dari peserta didik berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah, jenis kelamin serta saling membantu satu sama lain. Selama belajar kooperatif, peserta didik tetap tinggal dalam kelompoknya.
Menurut Ronger dan Davit Johnson dalam Lie Anita (2002 : 30) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap kooperatif learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur pembelajaran gotong royong harus diterapkan yaitu :
1) Saling ketergantungan positif.
2) Tanggung jawab perseorangan
3) Tatap mata
4) Komunikasi antar anggota
5) Evaluasi proses kelompok.
Menurut Lie Anita (2002:12) penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rakan sebaya (pear learning) ternyata lebih efektif daripada pengajaran oleh guru. Sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang tersetruktur disebut sebagai sistem pembelajaran gotong royong atau cooperatif learning, dalam sistem ini guru bertindak dan berfungsi sebagai fasilitator.
Falsafah yang mendasari model pembelajaran gotong royong dalam pendidikan adalah falsafah homo homini socius. Berlawanan dengan teori Darwin, falsafah ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, kerja sama merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia.
Menurut Siti Maesuri (2002:3) pembelajaran kooperatif adalah :
1) Anggota-anggota kelompok memahami bahwa mereka adalah bagian dari tim dan semua anggota tim bekerja untuk tujuan bersama.
2) Anggota-anggota kelompok memahami bahwa kesuksesan atau kegagalan kelompok akan ditanggung oleh semua anggota. Oleh karena itu, setiap anggota sedapat mungkin memberi konstribusi untuk tujuan kelompok.
3) Semua sistem membicarakan dan mendiskusikan masalah satu sama lain guna mencapai tujuan kelompok.
Menurut Muslimin Ibrahim, dkk (2002 : 6) kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat mencapai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda.
4) Penghargaan lebih berorientasi kelompok dibandingkan individu.
Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi mampu memacu keberhasilan individu melalui kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya 3 tujuan pembelajaran yaitu ; 1) Kemampuan akademik, 2) Penerimaan perbedaan individu, 3) Pengembangan keterampilan sosial. Menurut Muslimin Ibrahim, dkk (2002 : 6) bahwa unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah :
1) Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.
2) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
3) Siswa harusah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan sama.
4) Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan ketrampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7) Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditanganinya dalam kelompok kooperatif.
Pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif berfungsi melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan. Keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut antara lain :
1) Keterampilan kooperatif tingkat awal.
a) Menggunakan kesepakatan.
b) Menghargai kontribusi.
c) Mengambil giliran dan berbagai tugas.
d) Berada dalam kelompok.
e) Berada dalam tugas.
f) Mendorong partisipasi.
g) Mengundang orang lain untuk berbicara.
h) Menyelesaikan tugas pada waktunya.
i) Menghormati perbedaan individu.
2) Keterampilan tingkat menengah.
a) Menunjukkan penghargaan.
b) Mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima.
c) Mendengarkan dengan aktif.
d) Membuat ringkasan.
e) Menafsirkan.
f) Mengatur dan mengorganisir.
g) Menerima tanggung jawab.
h) Mengurangi ketegangan.
3) Keterampilan tingkat mahir.
a) Mengelaborasi.
b) Memeriksa dengan cermat.
c) Menanyakan kebenaran.
d) Menetapkan tujuan.
e) Berkompromi.
Pada dasarnya pembelajaran kooperatif mempunyai 6 (enam) langkah utama yaitu :
Fase 1. Pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa untuk belajar.
Fase 2. Menyajikan informasi dalam bentuk demonstrasi atau melalui bahan bacaan.
Fase 3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
Fase 4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
Fase 5. Evaluasi tentang apa yang sudah dipelajari sehingga masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6. Memberikan penghargaan baik secara kelompok maupun individu.
b. Pembelajaraan Kooperative Tipe Jigsaw
Menurut Lie Anita (2008 : 69) Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et al. sebagai metode Cooperative Learning. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Pendekatan ini bisa juga digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, matematika, agama dan bahasa. Teknik cocok untuk semua kelas/ tingkatan.
Menurut Hisyam Zaini dkk (2008:56) Jigsaw learning merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi-bagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh peserta didik dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain.
Pembagian kerja merupakan prosedur untuk membantu siswa belajar bagaimana saling membantu diantara mereka. Setiap siswa memdapat kewajiban yang sama, sebagai contoh sebuah kelas sedang mempelajari tentang Africa, dibagai grup yang terdiri dari 4 orang siswa, 4 negara dipilh untuk dipelajari, satu anggota dari tiap anggota grup di beri tugas mencari tentang negara tersebut, ada yang meringkasnya,ada yang menjadi tutor, ada yang mendapat tugas mengingatkan semua aspek data. Prosedur ini disebut jigsaw, dengan demikian para siswa diajak untuk meningkatkan kemampuannya , keterampilannya dalam pembagian tugas dan bekerja sama.
Teknik mengajar Jigsaw dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi empat bagian.
b. Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan menganai topic yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Pengajar bisa menuliskan topic di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topic tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru.
c. Siswa dibagi kedalam kelompok dimana dalam satu kelompok beranggotakan 5-6 orang siswa dan anggota dalam kelompok tersebut memiliki kemampuan akademik dalam pembelajaran PKn yang heterogen
d. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa pertama, sedangkan siswa kedua menerima bahan yang kedua, demikian seterusnya.
e. Kemudian siswa disuruh membaca/ mengerjakan bagian mereka masing-masing.
f. Setelah selesai, siswa saling berbagi menganai bagian yang dibaca/ dikerjakan masing-masing. Dalam kegiatan ini, siswa bisa saling melengkapi dan berinteraksi antara satu dengan yang lain.
g. Khusus untuk kegiatan membaca, kemudian mengajar membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.
h. Kegiatan bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topic dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bias dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.
Menurut Stahl (1994) fase dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sebagai berikut :
Fase 1 : Base group atau kelompok dasar
Fase 2 : Expert Group atau kelompok ahli
Fase 3 : Kembali ke kelompok dasar/asal
Fase 4 : Test

Kelompok Dasar/ Asli








= x 0 _ +





Kelompok Ahli


• Kerangka Berpikir
Guru adalah motivator untuk mempengaruhi siswa melakukan kegiatan belajar. Untuk memberikan pengaruh dan bimbingan dalam konteks mengajar, guru sebagai pemimpin melakukan dua usaha utama: (1) memperkokoh motivasi siswa (2) memilih strategi mengajar yang tepat.
Motivasi dibagi dua jenis yaitu: (1) Motivasi intrinsik yang mengacu kepada faktor-faktor dari dalam , tersirat baik dari tugas itu sendii maupun pada diri siswa, motivasi intrinsic merupakan pendorong bagi aktivitas dalam pengajaran dan dalam pemecahan soal . Keinginan untuk menambah pengetahuan dan untuk menjelajah pengetahuan merupaan faktor intrinsik semua orang. (2) Motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang mengacu kepada faktor-faktor dari luar dan ditetapkan pada tugas atau pada diri siswa oleh guru atau orang lain, Motivasi ekstrinsik dapat berupa penghargaan , pujian , hukuman atau celaan..
Dalam proses pembelajaran pemilihan metode mengajar yang tepat akan membawa prestasi belajar siswa yang maksimal. Pemilihan metode mengajar ini harus disesuaikan dengan mata pelajaran yang diajarkan dan juga standar kompetensi yang disampaikan, selain memperhatikan sarana dan prasarana yang ada dan kondisi dan situasi siswa.
Kumpulan atau model pengajaran yang dianggap baik dan efektif, adalah model yang dikembangkan oleh Bruce Joyce dan kawan-kawan dengan kategori sebagai berikut: (1) Model Information Processing, (2) Model personal, (3) Model Social , (4) Model behavioural
Pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang erat dengan pembentukan karakter atau sikap siswa. Mata pelajaran ini juga erat sekali dengan lingkungan tempat siswa beradaptasi sehingga pada dasarnya siswa telah memiliki pengetahuan-pengetahuan atau konsep-konsep dasar dalam mata pelajaran ini yang diperoleh dari lingkungan dan media massa.
Dalam proses pembelajaran mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan guru dituntut untuk mampu mengali konsep, pengetahuan atau informasi dasar yang telah dimiliki oleh siswa dan memilahnya ke dalam kumpulan konsep atau pengetahuan yang benar dan membangunnya dalam pengetahuan yang tepat untuk pembentukan sikap yang baik yaitu sikap warga Negara yang baik.
Berdasarkan uraian di atas metode kooperatif tipe Jigsaw dimungkinkan termasuk salah satu dari sekian metode mengajar yang baik untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Dengan metode ini guru dapat menggali konsep dan pengetahuan dasar yang telah dimiliki oleh seorang siswa dan membangunnya dalam suatu konsep pengetahuan yang benar.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kelompok. Dalam proses pembelajaran kooperatif terjadi peristiwa pengajaran teman sebaya (peer teaching) yang cenderung lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran oleh guru. Dalam sistem pembelajaran kooperatif siswa berkesempatan untuk bekerja sama dengan teman untuk mengembangkan diri sedangkan guru hanya sebagai fasilitator.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan setidaknya untuk mencapai tiga tujuan dasar yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan ketrampilan sosial. Dalam pembelajaran kooperatif akan mendorong siswa lebih berperan aktif dalam belajar dengan guru sebagai fasilitator belajar sehingga hasil belajar akan lebih bermakna mendalam bagi siswa. Pada pembelajaran konvensional, guru yang lebih berperan aktif sebagai sumber belajar dan siswa hanya sebagai obyek pembelajaran yang cenderung bersifat pasif.
Dengan metode yang berbeda yaitu metode kooperatif tipe Jigsaw dan pembelajaran konvensional seperti terurai di atas akan membawa prestasi siswa yang berbeda.
Secara sistematis paradigma penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :





Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran

• Perumusan Hipotesis
Berdasarkan landasan teori dan permasalahan yang diajukan dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
1. Ada Pengaruh prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan antara siswa yang mengikuti pelajaran dengan metode koperatif tipe Jigsaw dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa Kelas VIII SMP negeri 1 Semarapura
2. Siswa yang mendapatkan pengajaran pendidikan kewarganegaraan dengan mengikuti pelajaran dengan Metode kooperatif tipe Jigsaw memiliki prestasi yang lebih baik dibandingkan pembelajaran konvensional


G. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN

a. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Tempat penelitian dilaksanakan di SMP negeri 1 Semarapura
2. Waktu
Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan januari – April 2010
b. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian Quasi-Eksperimen yang bertujuan untuk menguji tentang hipotesa tentang ada hubungan sebab akibat antara variabel-variabelnya tanpa adanya randominasi terhadap subyek (Bawa,1997). Dalam penelitian ini hipotesa yang diuji adalah pengeruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap prestasi belajar PKn dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.
Dalam hal ini yang dieksperimenkan adalah model pembelajaran dengan rancangan “ The Non Randomized Pretest-postest control group design”yang digambarkan sebagai berikut :
Kelompok Eksperimen (KE) Q1 X Q2
Kelompok Kontrol (KK) Q3 Q4
Keterangan : X = Pembelajaran dengan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw
Tanpa X = Pembelajaran Konvensional tanpa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
Q1, Q3 = Pretest pada kelompok eksperimen dan kontrol
Q2,Q4 = Postest pada kelompok ekperimen dan control

c. Populasi, dan Sampel
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen “ populasi adalah keseluruhan subyek peneliti (Arikunto,2002). Sehingga yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas
VIII SMP negeri 1 Semarapura. Banyaknya anggota populasi dalam penelitian ini adalah 216 siswa yang tersebar kedalam 5 kelas dan sebaran siswa untuk masing-masing kelas adalah sebagai berikut :
Tabel : Anggota Populasi
No Kelas Populasi Jumlah Populasi

1 VIII A 40
2 VIII B 44
3 VIII C 44
4 VIII D 44
5 VIII E 44
Total Populasi 216

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto,2002). Sampel diambil dari dua kelas yaitu kelas VIIIB dan VIIIC. Sampel kelas untuk kelas eksperimen dan control diambil secara random. Dari hasil randomisasi maka kelas VIII B sebagai kelas eksperimen dan Kelas VIII C sebagai kelas control. Bila dikaji secara lebih akurat berdasarkan kemampuan pada mata pelajaran Pkn yang ditunjukan oleh nilai raport semester 1 ( Gasal). Kelas VIII B adalah 68,80 sedangkan kelas VIII C adalah 68, 40 ternyata kemampuan PKn siswa secara klasikal relatif setara. Sehingga didapatkan sebagai berikut :
Model Pembelajaran Kelas
Model Kooperatif tipe jigsaw VIII B
Model Konvensional VIII C

d. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua kelompok variabel penelitian, yaitu :
1. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah perlakuan terhadap masing-masing kelas. Perlakuan yang dimaksud adalah perlakuan pada kelas eksperimen dengan penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw dan pada kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat pada penelitian ini adalah hasil belajar atau prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan yang diperoleh dalam bentuk nilai tes dan nilai tes diberikan setelah ada perlakuan. Indiktor variable berupa: Skor penilain prestasi belajar siswa dari nilai tes pembelajaran dengan metode kooperatif tipe jigsaw dan metode konvensional.


e. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah :
1. Metode Dokumentasi
Suharsimi Arikunto (2002 : 135) memberikan batasan tentang metode dokumentasi sebagai berikut : “Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya”.
Dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data kemampuan awal siswa, guna tes kesamaan kemampuan awal sebelum dilakukan perlakuan eksperimen. Dokumen yang dipakai adalah nilai ulangan akhir semester kelas VIII semester Gasal
2. Metode Tes dan Angket
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. (Suharsimi Arikunto, 2002:127).
Dalam penelitian ini metode tes digunakan untuk mengetahui hasil prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa. Dan angket digunakan sebagai instrument untuk mengukur tampilan siswa dalam interaksi belajar mengajar di kelas (respon siswa terhadap pembelajaran)

f. Uji Coba Instrumen
Sebelum digunakan untuk pengumpulan data instrument tes dan angket diujicobakan di luar populasi untuk selanjutnya dilakukan analisis instrument Uji coba instrument akan dilaksanakan di SMP Negeri 1 Semarapura, klungkung. Instrumen tes prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan yang digunakan dalam penelitian ini harus memenuhi beberapa persyaratan analisis yaitu :

1. Validitas
Suharsimi Arikunto (2002: 144) menyatakan : Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat valid dari suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid mempunyai validitas yang tinggi. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat.
Adapun yang digunakan untuk menguji validitas tes adalah korelasi product moment. Suatu instrumen tes dikatakan valid jika koefisien korelasi antara skor tiap-tiap item lebih besar dari kooefisien korelasi tabel (rxy > rTabel¬).

(Suharsimi Arikunto, 1992 : 69)
dimana :
rxy = kooefisien validitas suatu item
X = skor tiap-tiap item dari semua responden
Y = Skor total seluruh responden
N = Jumlah seluruh responden
Nilai hasil perhitungan dikonsultasikan ke tabel harga kritik product moment sehingga dapat diketahui signifikan tidaknya korelasi tersebut. Jika harga r hitung lebih kecil dari harga kritik tabel maka korelasi tidak signifikan. Jika harga r hitung lebih besar dari harga kritik tabel maka korelasi tersebut signifikan atau instrumen tersebut valid (Suharsimi Arikunto, 1992 : 72).
2. Uji Reliabilitas
Untuk mengetahui reliabilitas soal objektif digunakan rumus :
r11 =
Keterangan :
r11 : Rehabilitas secara keseluruhan.
p : Proporsi subjek menjawab item dengan benar
q : Proporsi subjek menjawab item dengan salah ( q = p - 1)
pq : Jumlah hasil perkalian antara p dan q
n : jumlah item
s : Standar deviasi dari tes/ akar dari varian
(Suharsimi Arikunto, 1995:98)
Setelah diperoleh harga r11 kemudian dikonsultasikan dengan tabel harga r product moment. Apabila harga r11 lebih besar dari harga r tabel maka dikatakan isntrumen tersebut reliabel.
g. Teknik Analisa Data
1. Uji Prasarat Analisis
Sebelum dilakukan analisis data guna membuktikan hipotesis yang telah diajukan dilakukan pengujian prasarat analisis yang meliputi :
a. Uji Normalitas
Syarat agar analisis varian dapat diterapkan adalah terpenuhinya sifat normalitas pada distribusi populasi. Untuk mennguji apakah data yang diperoleh berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak digunakan uji normalitas. Dalam analisis ini digunakan metode Liliefors.
1) Hipotesis
H0 = Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal.
H1 = Sampel tidak berasal dari populasi berdistribusi normal.
2) Nilai = 0,05
3) Uji Statistik
L = Maks , dengan F(zi) = P( Z zi), Z ~ N(0,1) dan S(zi) = proporsi cacah z zi terhadap seluruh zi.

4) Daerah Kritis

5) Keputusan Uji
H0 diterima jika harga statistik uji jatuh diluar daerah kritik.
(Budiyono, 2000:169)
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas yang dilakukan dengan menggunakan metode Bartlet sebagai berikut :
1) Hipotesis
H0 : (populasi-populasi homogen)
H1 : tidak semua variansi sama (populasi- populasi tidak homogen)
2) Nilai = 0,05
3) Uji Statistik

dimana :
k = banyaknya populasi = banyaknya sampel
f = derajat kebebasan untuk RKG = N – k
fj = derajat kebebasan untuk sj2 = nj – 1
j = 1, 2, …, k
N = banyaknya seluruh nilai (ukuran)
nj = banyaknya nilai (ukuran) sampel ke-j = ukuran sampel ke –j.

4) Daerah Kritis

5) Keputusan Uji
H0 diterima jika harga statistik uji jatuh diluar daerah kritik.
(Budiyono, 2000:176-177)
2. Uji Hipotesis
Setelah dilakukan pengujian prasarat analisis dilakukan pengujian hipotesis sebagai berikut :
a. Hipotesis Pertama
Pengujian hipotesis pertama dengan teknik T-test sebagai berikut :
Misal adalah rata-rata dan adalah simpangan baku.
Jika akan diuji dengan uji t yaitu :

dengan

Kriteria pengujian adalah hipotesis diterima apabila , dimana didapat dari table daftar distribusi t dengan dk = (n1 + n2 – 2), untuk harga-harga t lain H0 ditolak.
(Sudjana, 1996 : 239)
b. Hipotesis Kedua
Untuk menjawab hipotesis kedua dengan melihat rata-rata prestasi belajar Pendidikan kewarganegaraan dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Hipotesis diterima jika rata-rata kelompok eksperimen lebih besar dari rata-rata kelompok control







DAFTAR PUSTAKA

Ardana, Made. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Makalah disajikan dalam kegiatan Workshop guru-guru se-Kabupaten Bangli.
Djuwati, dkk. Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Melalui Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Bahan Akjian Reaksi Oksidasi Reduksi di Kelas 1-9 SMU Negeri Sidoarjo
Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. PT. Rineka Cipta, Jakarta
Budiyono. 2000. Statistik Dasar untuk Penelitian. Surakarta: UNS Press.
Hasibuan, J.J. dan Moedjimo. 1988. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remadja Karya.
Liza. 2007. Models Of Teaching Sosial dan Pembelajaran Kooperatif. Program Pascasarjana STAIN Cirebon : www.4shared.com
Landrawan, Wayan. 2007. Materi Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Disusun sebagai komplementer materi kuliah PKn untuk mahasiswa di lingkungan Undiksha
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
Oemar Hamalik. 2001. Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. Bandung : Mandar Maju.
Sutrisno Hadi. 1998. Statistik 2, Yogyakarta : Andi Offset.

0 komentar:

Posting Komentar