---WELCOME "SALAM PERSAHABATAN"---

Senin, 26 April 2010

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMP Negeri 3 Singaraja
Mata Pelajaran : P K N
Kelas / Semester : VII / Ganjil
Standar Kompetensi : 1. Menunjukan sikap positif terhadap norma-norma yang
berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegra.
Kompetensi Dasar : 1.1 Mendeskripsikan hakekat norma-norma ,kebiasaan,
adat istiadat dan peraturan yang belaku dalam
Masyarakat.

Indikator : 1.1.1 Menjelaskan Hakekat Manusia
1.1.2 Menjelaskan hakekat norma-norma di masyarakat
1.2.3 Mendeskripsikan tujuan dan fungsi norma

Alokasi waktu : 2 x 40 Menit

A. Tujuan Pembelajaran.

Pertemuan pertama
1. Siswa mampu menjelaskan hakekat manusia sebagai mahluk pribadi dan
Manusia sebagai mahluk sosial.
2. Siswa mampu menjelaskan pengertian dan hakekat norma dalam kehidupan
Bermasyarakat .
3. Siswa mampu menyebutkan tujuan dan fungsi norma.

B. Materi pembelajaran

Hakekat manusia
1. Manusia Sebagai Makhluk Individu
Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individium yang berarti yang tak terbagi, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas. Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu. Dalam diri individi ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur fisik dan psikisnya, atau ada unsur raga dan jiwanya. Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor fenotip dan genotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan, dibawa individu sejak lahir. Kalau seseorang individu memiliki ciri fisik atau karakter sifat yang dibawa sejak lahir, ia juga memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan (faktor fenotip). Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik seperti kondisi alam sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana eorang individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial yang lebih besar. Karakteristik yang khas dari seeorang dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor bawaan genotip)dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi terus-menerus. Menurut Nursid Sumaatmadja (2000), kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi bio-psiko-fiskal (fisik dan psikis) yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologisnya, jika mendapat rangsangan dari lingkungan. Dia menyimpulkan bahwa faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seeorang.
2. Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya. Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karrena beberapa alasan, yaitu: a. Manusia tunduk pada aturan, norma sosial. b. Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain. c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia. B. Interaksi Sosial dan Sosialisasi 1. Interaksi Sosial Kata interaksi berasal dari kata inter dan action. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik saling mempengaruhi antara individu, kelompok sosial, dan masyarakat. Interaksi adalah proses di mana orang-oarang berkomunikasi saling pengaruh mempengaruhi dala pikiran danb tindakana. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain. Interaksi sosial antar individu terjadi manakala dua orang bertemu, interaksi dimulai: pada saat itu mereka saling menegeur, berjabat tangan, saling berbicara, atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk dari interaksi sosial.
Setiap manusia memiliki kebutuhan hidup yang berbeda beda,untuk menghindari benturan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya didalam memenuhi kebutuhannya maka didalam masyarakat sangat diperlukan adanya suatu aturan yang mengatur kehidupan bersama sehingga manusia didalam masyarakat bisa hidup teratur dan dapat menyadari bahwa setiap manusia memiliki kepentingan dan kebutuhan yang berbeda beda , dan manusia harus menyadari pula bahwa manusia tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.didalam memenuhi kebutuhannya manusia harus bekerja sama dengan manusia yang lain.hubungan antara individu dengan individu yang lain perlu diatur dengan norma – norma.
Hakekat norma
Norma adalah kaedah-kaedah atau ketentuan-ketentuan yang mengatur prilaku manusia dalam masyarakat yang didalamnya berisi perintah-perintah, larangan-larangan dan bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi.
Unsur-unsur norma :
1. adanya perintah-perintah.
2. adanya larangan-larangan.
3. adanya sanksi bagi yang melanggarnya.

Tujuan dan fungsi norma:
Tujuan norma :
1. untuk mengatur ketertiban dalam masyarakat.
2. untuk menjaga agar kepentingan individu tidak dapat diganggu oleh orang
lain.
3. untuk memberikan perlindungan kepada uamat manusia.
4. untuk mewujudkakan keadilan dalam masyarakat.
5. untuk memberikan jaminan keamanan kepada angota masyarakat
Fungsi norma adalah
1. Sebagai petunjuk hidup didalam pergaulan dimasyarakat.
2. dijadikan rambu-rambu didalam berperilaku di masyarakat

C. Metode Pembelajaran
1. Ceramah Bervariasi
2. Tanya Jawab
3. Diskusi
4. Penugasan
D. Pendekatan
1. Menggunakan Pendekatan discovery dan inquiry
2. Model pembelajaran yang digunakan adalah Model Kooperatif STAD ( Student team achievement Division)

































a. Membentuk kelompok yang anggotanya terdiri dari 4-5 orang secara hiterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku)
b. Guru Menyajikan pembelajaran
c. Memberikan tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompoknya mengerti.
d. Memberikan Kuis/ pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
e. Memberikan evaluasi
f. Kesimpulan/ penutup

E. Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan Kegiatan Guru Waktu Keterangan


Pertama A. Kegiatan Pendahuluan
• Guru Menyampaikan salam dan sapa kepada siswa
• Guru Memeriksa kebersihan kelas
• Guru mengabsen siswa
• Menyampaikan kompetensi dan indikator yang ingin dicapai agar siswa dapat mengetahui materi yang akan dikuasai setelah pembelajaran.
• Guru memberikan Pretes
10 mnt
B. Kegiatan Inti
a. Eksplorasi
• Guru menyampaikan materi yang diajarkan yang disertai dengan tanya jawab untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi.
• Guru menampilkan gambar-gambar sehingga dapat meningkatkan pemahaman konsep terhadap siswa
• Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok untuk melakukan diskusi kelompok
• Guru memberikan tugas/ permasalahan yang berkaitan dengan materi yang diajar pada kelompok untuk melakukan diskusi kelompok

b. Elaborasi
• Setiap kelompok mendapat sebuah kasus/ permasalahn oleh Guru yang berkaitan dengan materi yang diajarkan
• Kasus tersebut kemudian didiskusikan oleh setiap kelompok
• Setelah melakukan diskusi, perwakilan dari tiap-tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas

c. Konfirmasi
• Guru memanggil siswa secara acak menurut no undian dari masing-masing kelompok (setiap kelompok membuat no undian yaitu kelompok pertama yang anggotanya terdiri dari 5 orang jadi no 1-5 dan diteruskan ke kelompok kedua yaitu 5-10 dan seterusnya)
• Guru memberikan pujian akan jawaban yang diberikan siswa
• Guru membimbing dan mluruskan siswa akan jawaban-jawaban yang diberikan oleh setiap siswa yang kurang tepat
• Guru membererikan tanggapan terhadap jalannya diskusi 60 mnt
Penanaman Konsep














Penanaman kerja sama dan sharing pengetahuan








Penanaman Motivasi dan semangat belajar siswa
C. Kegiatan Akhir
• Guru bersama siswa menyimpulan materi yang telah jelaskan.
• Guru menugaskan siswa (Pekerjaan trumah) mencari contoh pelanggaran norma norma masyarakat baik dikoran atau majalah
• Memberikan postest kepada siswa. 10 mnt









E. Sumber Belajar
1. Buku paket ( Departemen Pendidikan Nasional )
2. Buku paket ( Yudistira )
3. LKS ( Ratih )
4. UUD 1945

F. Penilaian Hasil Belajar
a. Tehnik Penilaian : Tes
b. Bentuk penilaian : Essay dan diskusi

Soal Essay :
1. Jelaskan arti Manusia sebagai mahluk sosial.
2. Jelaskan pengertian norma !
3. Sebutkan unsur-unsur norma!
4. Sebutkan fungsi norma ( minimal 4 )
5. Sebutkan tujuan norma ( minimal 2 )

Soal diskusi :
1. Coba didiskusikan dengan kelompok kalian tentang bagaimana hakekat manusia sebagai makluk pribadi dan sosial
2. Coba didiskusikan dengan anggota kelompok kalian mengenai pengertian nilai dan norma dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3. Diskusikan dengan anggota kelompokya mengenai unsur-unsur norma yang berlaku di masyarakat
4. Diskusikan dengan anggota kelompok kalian mengenai fungsi dan tujuan norma yang berlaku di masyarakat, berbangsa dan bernegara.

d. Kunci Jawaban
1. Manusia sebagai mahluk sosial artinya manusia tidak dapat hidup sendiri melainkan selalu ingin hidup bersama dengan manusia yang lain atas dasar saling hormat menghormati,
2. Norma adalah kaedah kaedah atau ketentuan ketentuan yang mengatur prilaku manusia yang didalamnya berisi perintah perintah ,larangan larangan yang bila dilanggar akan dikenakan sanksi.
3. Unsur-unsur norma :
- adanya perintah perintah.
- adanya larangan larangan
- adanya sanksi.
4. Tujuan norma adalah
-. Mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat.
-. Menjaga ketertiban masyarakat
-. Menjaga keamanan masyarakat.
-. Untuk menjaga kepentingan tiap manusia agar tidak diganggu.
5. Fungsi norma adalah
- Sebagai petunjuk hidup dalam berperilaku dimasyarakat.
- Dijadikan pedoman dalam pergaulan dimasyarakat

Diskusi :
1.
















Penjelasan Bagan :
Dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, orang akan selalu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Manusia selain sebagai mahluk individu juga sebagai mahluk sosial dimana dalam kehidupannya tidak bisa sendiri harus selalau membutuhkan bantuan dari orang lain.coban bayangkan seandainya kita hidup sendiri di dunia ini tanpa adanya teman ataupaun keluarga disisi kita ? mungkin akan kesepian dan mati karena untuk memenuhi kebutuhan hidup harus adanya saling tolong menolong dan membantu satu dengan yang lainia sehingga terjalin suatu hubungan yang harmonis dalam kehidupan. Dalam konsep agama Hindu di kenal dengan tri premana yaitu pahyangan yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan ( Sebagai mahluk religius), segala aktivitas yang dilaksanakan haruslah seiringan dengan agama yang diyakini dan mematuhi perintah dan menjauhi larangann-NYA. Yang kedua Pawongan uaitu hubungan harmonis antara manusia dengan manusia (selain sebagai mahluk individu juga sebagai makluk sosial) dan yang terakhir Palemahan yaitu hubungan harmonis pada lingkungan kita.
Dengan adanya suatu pergaulan dalam masayrakat maka lahirlah yang namanya nilai dan norma dalam masyarakat. Norma ada karena adanay suatu hubungan dan peraturan yang disepakati bersama untuk dipatuhi dan dilaksanakan
Dalam Norma terdapat unsur-unsur sehingga norma tersebut dapat mengikat semua warga masyarakat
Norma merupakan suatu peraturan yang mengikat warga masayrakat. Maka norma tersebut memiliki suatu tujuan dan fungsi sehingga norma tersebut memiliki daya ikat yang sangan kuat dalam pergaulan bermsyarakat, berbangsa dan bernegara.

G. Rublik Penilaian Essay

NO URAIAN SKOR
1 Tulisan rapi dan mudah dibaca 20
2 Tidak ada coretan 10
3 Bahasa sistematis dan mudah dipahami 20
4 Jawaban tepat sesuai dengan fakta dan konsep 50

 Lembar Observasi saat diskusi

1. Mejelaskan arti manusia sebagai mahluk sosial

No Kegiatan siswa Skor
1
2
3 Siswa menjelaskan dengan benar
Siswa menjelaskan dengan kurang sempurna
Siswa menjelaskankan salah
2
1
0
Skor maksimal 2

2. Menjelaskan pengertian norma

No Kegiatan Siswa Skor
1
2
3
Siswa menyebutkan dengan benar
Siswa menyebutkan kurang sempurna
Siswa menjelaskan salah 2
1
0
Skor maksimal 2

3. Menyebutkan unsur unsur norma

No Kegiatan Siswa Skor
1
2
3
4 Menyebutkan 3 benar
Menyebutkan 2 benar
Menyebutkan 1 benar
Tidak menjawab atau menyebutkan tapi semua salah 3
2
1
0
Skor maksimal 3

4. Menyebutkan tujuan norma ( minimal 4 )

No Kegiatan Siswa Skor
1
2
3
4
5 Menyebutkan 4 benar
Menyebutkan 3 benar
Menyebutkan 2 benar
Menyebutkan 1 benar
Tidak menjawab atau menyebutkan tapi semua salah 4
3
2
1
0
Skor maksimal 4

5. Menyebutkan fungsi norma ( minimal 2 )
No Kegiatan Siswa Skor
1
2
3 Menyebutkan 2 benar
Menyebutkan 1 benar
Tidak menjawab atau menyebutkan tapi semua salah 4
2
0
Skor maksimal 4

Skala Skor : 0 - 100
Skor maksimal : 15

Nilai saat diskusi = Jumlah skor yang diperoleh X 100
Skor maksimal








Kriteria :

Jumlah skor 81-100 = Tinggi
Jumlah skor 61-80 = Sedang
Jumlaj skor 60-kebawah = Rendah

Mengetahui Singaraja, Januari 2010
Kepala SMP Negeri 3 Singaraja Guru Mata Pelajaran PKN

Kadek Dony Wiputra
NIM 0714041044



RENCANA PELAKSANAAN PENBELAJARAN
RPP 2




Satuan pendidikan : SMP Negeri 3 Singaraja
Mata pelajaran : P K N
Kelas / Semester : VII / Ganjil
Standar kompetensi : 1. Menunjukan sikap positif terhadap norma-norma yang
Berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
Bernegara.
Kompetensi dasar : 1.1 Mendiskrifsikan hakekat norma-norma ,adat istiadat,
dan peraturan yang berlaku dimasyarakat.
Indikator : 1.1.1 Menguraikan macam-macam norma.
1.1.2 Memberikan contoh-contoh pelanggaran norma-norma
dalam masyarakat

Alokasi waktu : 2 x 40 mnt

A. Tujuan pembelajaran :
1. Siswa dapat menyebutkan macam-macam norma yang ada dimasyarakat.
2. Siswa dapat memberikan contoh-contoh pelanggaran norma-norma dalam masyarakat

B. Materi pelajaran:
Macam –macam norma yang berlaku dimasyarakat:

1. Norma agama adalah petunjuk hidup yang diterima sebagai perintah,larangan,
yang harus dilakukan yang bersumber dari tuhan.
contoh pelanggaran norma agama adalah:
- Mencuri
- Membunuh.
- Tidak berbakti pada tuhan.
- Tidak hormat pada orng tua,
- Tidak pernah sembahyang.
- Dll.
Sanksi terhadap pelanggaran norma agama adalah akan mendapatkan hukum dosa.

2. Norma kesusilaan adalah norma atau petunjuk hidup yang mengatur prilaku
Manusia yang bersumber dari hati nurani manusia.
Contoh pelanggarannya adalah
- Berbohong.
- Memfitnah.
- Menipu
- Durhaka pada orang tua
- Mencuri.dll
Sanksi terhadap pelanggaran norma kesusilaan adalah penyesalan didalam
hati dan mendapat sanksi sosial berupa dikucilkan dalam pergaulan
dimasyarakat.

3. Norma kesopanan adalah norma atau petunjuk hidup yang timbul dan
diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur pergaulan sehingga
masing masing anggota masyarakat saling hormat-menghormati.
Contoh pelanggarannya :
- Meludah disembarang tempat.
- Membuang sampah disembarang tempat.
- Perpakaian yang tidak senonoh.
- Jorok dalam berpenampilan
- Ngomong yang kasar kepada orang yang lebih tua.
- Dll
Sanksi bila melanggar norma kesopanan adalah mendapatkan sanksi sosial
yaitu dikucilkan atau disisihkan dari pergaulan dimasyarakat.

4. Norma hukum adalah norma atau petunjuk hidup yang mengatur prilaku
Manusia yang dibuat oleh pemerintah atau pejabat negara yang berwenang.
Contoh pelanggarannya :
- Mencuri.
- Membunuh.
- Memperkosa.
- Merampok.
- Melanggar peraturan lalu lintas.
- Dll.

Melangar norma hukum akan mendapat sanksi berupa sanksi hukum yang
Bersifat tegas, nyata, memaksa dan mengikat.yaitu:
Hukuman pokok yaitu:
- Hukuman kurungan.
- Hukuman penjara.
- Penjara seumur hidup.
- Hukuman mati.
Hukuman tambahan yaitu :
- Hukuman denda.
- Disita barang barang yang digunakan untuk melakukan kejahatan.
- Disita barang barang yang diperoleh dari hasil melakukan kejahatan

Dibawah ini adalah contoh-contoh prilaku prilaku yang mencerminkan norma
Norma yang berlaku dimasyarakat:
- Suka sembahyang
- Suka bersedekah.
- Suka beramal
- Berbakti pada tuhan
- Berbakti pada orang tua.
- Jujur.
- Melaksanakan aturan hukum yang berlaku.
- Dll

Dibawah ini adalah contoh contoh prilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dimasyarakat:
- Mencuri.
- Membunuh.
- Memfitnah.
- Memperkosa.
- Tidak bertaqwa kepada tuhan.
- Berbohong.
- Durhaka kepada orang tua
- Memperdaya orang lemah.
- Dll

C. Metode Pembelajaran
1. Ceramah Bervariasi
2. Tanya Jawab
3. Diskusi
4. Penugasan


D. Pendekatan

Strategi pembelajaran : Discovery Inquiri / mencari dan menemukan ( terpusat
pada siswa ).
Model pembelajaran : Model pembelajaran kooperatif Jigsaw, dengan langkah-
langkah sebagai berikut :
a. Siswa dikelompokan kedalam 5-6 anggota
b. Dalam setiap anggota kelompok ditugaskan mempelajari sub materi yang berbeda, dimana pembagian sub materi dalam satu kelompok tersebut dilakukan dengan menggunakan no undian.
c. Anggota kelompok yang mendapat sub materi yang sama akan membentuk suatu kelompok baru yang dikenal dengan kelompok ahli untuk mendiskusikan materi mereka.
d. Setelah selesai berdiskusi dalam kelompok ahli, tiap anggota kelompok kembali kekelompok asli dan secara bergantian mengajar teman satu timnya tentang sub bab yang mereka kuasai dan anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh

E. Langkah-langkah Pembelajaran.

Pertemuan Kegiatan Guru Waktu Keterangan


Pertama F. Kegiatan Pendahuluan
• Guru Menyampaikan salam dan sapa kepada siswa
• Guru Memeriksa kebersihan kelas
• Guru mengabsen siswa
• Menyampaikan kompetensi dan indikator yang ingin dicapai agar siswa dapat mengetahui materi yang akan dikuasai setelah pembelajaran.
• Guru mengajak siswa membuat norma ketika pembelajaran berlangsung di sebuah kertas dan menempelnya ditempat yang telah disiapkan oleh guru.
10 mnt
B. Kegiatan Inti
a. Eksplorasi
• Guru menyampaikan materi yang diajarkan yang disertai dengan tanya jawab untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi.
• Guru menampilkan video yang berhubungan dengan norma-norma dalam masyarakat sehingga dapat meningkatkan pemahaman konsep terhadap siswa
• Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok untuk melakukan diskusi kelompok dimana dalam kelompok terdiri dari 5- 6 orang.
• Guru memberikan tugas/ permasalahan yang berkaitan dengan materi yang diajar pada kelompok untuk melakukan diskusi kelompok
• Dalam materi yang diberikan kepada kelompok kemudian dibagi sub materinya kepada tiap anggota, sehingga tiap anggota memiliki sub materi yang akan dia kuasai dan dipelajari secara mendalam dalam kelompok ahli.

b. Elaborasi
• Guru membentuk kelompok diskusi baru (kelompok ahli) dimana kelompok ahli ini merupakan perwakilan dari tiap-tiap kelompok yang mendapat sub materi yang sama sehingga dalam kelompok ini mendiskusikan sub materi tersebut secara mendalam.
• Setelah melakukan diskusi dalam kelompok ahli, maka tiap anggota kembali ke kelompok asli. dalam kelompok asli anggota yang memahami materi lebih ( setelah berdiskusi dalam kelompok ahli) mengajar teman satu timnya mereka tentang sub materi yang dikuasai dan anggota yang lainnya mendengarkan dengan serius dan sungguh-sungguh
c. Konfirmasi
• Guru memanggil siswa secara acak menurut no undian dari masing-masing kelompok (setiap kelompok membuat no undian yaitu kelompok pertama yang anggotanya terdiri dari 5 orang jadi no 1-5 dan diteruskan ke kelompok kedua yaitu 5-10 dan seterusnya)
• Guru memberikan pujian akan jawaban yang diberikan siswa
• Guru membimbing dan mluruskan siswa akan jawaban-jawaban yang diberikan oleh setiap siswa yang kurang tepat
• Guru membererikan tanggapan terhadap jalannya diskusi 60 mnt
Penanaman Konsep




















Penanaman kerja sama dan sharing pengetahuan











Penanaman Motivasi dan semangat belajar siswa
C. Kegiatan Akhir
• Guru bersama siswa menyimpulan materi yang telah jelaskan.
• Guru menugaskan siswa (Pekerjaan rumah)
• Memberikan postest kepada siswa. 10 mnt








E. Sumber Belajar
1. Buku paket ( Departemen Pendidikan Nasional )
2. Buku paket ( Yudistira
3. LKS ( Ratih )
4. UUD 1945

F. Penilaian Hasil Belajar
a. Tehnik Penilaian : Tes
b. Bentuk penilaian : Essay dan diskusi

Soal Essay
1. Sebutkan macam macam norma yang ada dimasyarakat dengan contoh
Pelanggarannya beserta sanksinya!
2. Sebutkan perbedaan antara norma hukum denga n norma yang lainnya
Dilihat dari sifat sanksi norma bersangkutan !
3. Sebutkan contoh prilaku yang sesuai dengan norma hukum(minimal 4).
4. Sebutkan contoh prilaku yang melanggar norma hukum (minimal 4 ).
5. Sebutkan ciri ciri orang yang taat terhadap norma yang berlaku
Dimasyarakat.
Soal diskusi :

1. Coba diskusikan dengan anggota kelompoknya mengenai norma Agama yang ada dimasyarakat dengan contoh-contoh pelanggaran yang biasa ditemui dalam masyarakat!
2. Coba diskusikan dengan anggota kelompoknya mengenai hakekat norma Kesopanan yang ada dimasyarakat dengan contoh-contoh pelanggaran yang biasa ditemui dalam masyarakat!
3. Coba diskusikan dengan anggota kelompoknya mengenai hakekat norma Kesusilaan yang ada dimasyarakat dengan contoh-contoh pelanggaran yang biasa ditemui dalam masyarakat!
4. Coba diskusikan dengan anggota kelompoknya mengenai hakekat norma Hukum yang ada dimasyarakat dengan contoh-contoh pelanggaran yang biasa ditemui dalam masyarakat!
5. Coba diskusikan dengan anggota kelompoknya mengenai adat istiadat yang ada dalam masyarakat dan mengapa adat istiadat dalam suatu masyarakat memiliki kekuatran/ memiliki sifat menguikat dalam masyarakat!

Kunci jawaban essay :
• Norma agama adalah norma atau petunjuk mausia dalam berprilaku yang berasal dari Tuhan.
Contoh pelanggarannya : Mencuri, membunuh, durhaka kepada orang Tua dll.
Sanksinya adalah mendapat hukuman diakhrat ( dosa ).

• Norma kesusilaan adalah norma yang bersumber dari hati nurani Manusia.
Contoh pelanggarannya adalah : berbohong, mencuri,durhaka dll.
Sanksinya adalah berupa penyesalan hati dan mendapat sanksi sosial.

• Norma kesopanan adalah norma yang timbul dan diadakan oleh Masyarakat untuk mengatur pergaulan masing masing anggota Masyarakat.
Contoh pelanggarannya:meludah di sembarang tempat, membuang sampah di sembarang tempat, bebicara jorok dll
Sanksinya adalah akan mendapat sanksi sosial yaitu dikucilkan dalam pergaulan dimasyarakat.

• Norma Hukum adalah norma yang dibuat oleh pemerintah atau Lembaga negara yang berwenang .
Contoh pelanggarannya adalah mencuri ,membunuh,dll
Sanksinya adalah Penjara , penjara seumur hidup, atau hukuman mati.

2. Perbedaannya adalah kalau norma hukum memiliki sanksi yang
Tegas dan memaksa, sedangkan norma yang lainya tidak tegas dan
Tidak memaksa.

3.Contoh prilaku yang sesuai dengan hukum yang berlaku dimasyarakat
- patuh terhadap peraturan lalu lintas
- patuh terhadap UUD 1945 dan Undang Undang
- patuh terhadap aturan yang berlaku
- membayar pajak ,

4. Contoh prilaku yang tidak sesui dengan norma yang berlaku
Masyarakat.
- membunuh.
- mencuri
- berbohong.
- melanggar aturan
- memperkosa dll

5. Ciri ciri orang yang patuh terhadap aturan yang berlaku adalah
- tidak suka melanggar.
- tenang dalam berprilaku/ tidak merasa terpaksa.
- hidupnya damai.
- memiliki perasaan yang tentram.





G. Rublik Penilaian Essay
1. sebutkan macam macam norma ,contoh pelanggarannya besrta sanksinya

No Kegiatan siswa Skor
1
2
3
4
5 Menjawab 4 benar
Menjawab 3 benar
Menjawab 2 benar
Menjawab 1 benar
Menjawab tapi semua salah 4
3
2
1
0
Skor maksimal 4

2. Sebutkan perbedaan norma hukum dengan norma yang lainnya
No Kegiatan siswa Skor
1
2
3
Menjawab benar dan sempurna
Menjawab tapi kurang sempurna
Menjawab tapi salah 4
2
0
Skor maksimal 4

3. Menyebutkan contoh prilaku yang sesui norma hukum

No Kegiatan siswa Skor
1
2
3
4
5 Menjawab 4 benar
Menjawab 3 benar
Menjawab 2 benar
Menjawab 1 benar
Menjawab tapi semua salah 4
3
2
1
0
Skor maksimal 4

4. Menyebutkan contoh prilaku yang melanggar norma hukum

No Kegiatan siswa Skor
1
2
3
4
5 Menjawab 4 benar
Menjawab 3 benar
Menjawab 2 benar
Menjawab 1 benar
Menjawab tapi semua salah 4
3
2
1
0
Skor maksimal 4

5. Menyebutkan ciri ciri orang yang patuh terhadap norma yang berlaku,
No Kegiatan siswa Skor
1
2
3
4
5 Menjawab 4 benar
Menjawab 3 benar
Menjawab 2 benar
Menjawab 1 benar
Menjawab tapi semua salah 4
3
2
1
0
Skor maksimal 4
Skala skor : 0 - 100
Skor maksimal : 20


Nilai Akhir = Jumlah skor yang diperoleh x 100
Skor maksimal


Untuk menilai keaktifan siswa memakai tehnik penilaian OBSERVASI saat Diskusi

Format Observasi

No Nama Siswa Keaktifan siswa Skor
Sgt aktif aktif Ckp aktif Tdk aktif
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
dst




























Ket :
Sangat aktif = 90-100
aktif = 70-89
Cukup aktif = 60-79
Tidak aktif = 0-59

Penilaian tes skala keseluruhan :

No Predikat Skor
1 Sangat Baik 90-100
2 Baik 80 – 89
3 Cukup Baik 71 – 80
4 Kurang baik Kurang dari 71



H.Sumber Belajar
1. Bukut paket (yudistira )
2 LKS ( ratih )
3 UUD 1945
4 Artikel dikoran ( bali post )




Mengetahui Singaraja, Januari 2009
Kepala SMP Negeri 3 Singaraja Guru Mata Pelajaran PKN




Kadek Dony Wiputra
NIM 0714041044

































Lampiran Gambar

Paradigma Hubungan Internasional

Paradigma Hubungan Internasional
1. Pengertian Hubungan Internasional
K.J. Holsti dalam bukunya International Politics, mendefinisikan bahwa Hubungan Internasional sebagai :
“Semua bentuk interaksi antara masyarakat yang berbeda, apakah itu disponsori oleh pemerintah atau tidak … ia mencakup juga studi mengenai serikat perdagangan internasional, Palang Merah Internasional, turisme, perdagangan interasional, transportasi, komunikasi, dan perkembangan nilai dan etik internasional.”
Hubungan Internasional adalah cabang dari ilmu politik, merupakan suatu studi tentang persoalan-persoalan luar negeri dan isu-isu global di antara negara-negara dalam sistem internasional, termasuk peran negara-negara, organisasi-organisasi antarpemerintah, organisasi-organisasi nonpemerintah atau lembaga swadaya masyarakat, dan perusahaan-perusahaan multinasional. Hubungan Internasional adalah suatu bidang akademis dan kebijakan publik dan dapat bersifat positif atau normatif karena Hubungan Internasional berusaha menganalisis serta merumuskan kebijakan luar negeri negara-negara tertentu. Selain ilmu politik, Hubungan Internasional menggunakan pelbagai bidang ilmu seperti ekonomi, sejarah, hukum, filsafat, geografi, sosiologi, antropologi, psikologi, studi-studi budaya dalam kajian-kajiannya. HI mencakup rentang isu yang luas, dari globalisasi dan dampak-dampaknya terhadap masyarakat-masyarakat dan kedaulatan negara sampai kelestrarian ekologis, proliferasi nuklir, nasionalisme, perkembangan ekonomi, terorisme, kejahatan yang terorganisasi, keselamatan umat manusia, dan hak-hak asasi manusia
Hubungan international merupakan satu gambaran persatuan yang kuat yang mengikat seluruh negara didalam satu wadah. Relasi ini mempunyai ikatan kuat bagi setiap individual pemimpin dari berbagai manca Negara, beberapa bentuk ikatan ini sebagai berikut:
• Politik International
Hubungan ini terarah dalam perpolitikan dimana politik satu negara tidak mungkin sama dengan yang lain. Dari sisi inilah lahir hubungan diplomatik yang bertujuan untuk kemajuan dan menjalin hubungan yang akur. Tapi sayangnya para pejabat diploma yang ditugaskan dalam hal ini kebanyakan melenceng dari tugas mereka, bahkan pemilihan para diploma untuk luar negeri terpilih dengan cara sistem kekeluargaan atau jasa.
• Hukum International
Hukum internasional dapat didefinisikan sebagai sekumpulan hukum yang sebagian besar terdiri atas prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh negara-negara, dan oleh karena itu juga harus ditaati dalam hubungan-hubungan antara mereka satu dengan lainnya, serta yang juga mencakup :
a. Organisasi internasional, hubungan antara organisasi internasional satu dengan lainnya, hubungan peraturan-peraturan hukum yang berkenaan dengan fungsi-fungsi lembaga atau antara organisasi internasional dengan negara atau negara-negara ; dan hubungan antara organisasi internasional dengan individu atau individu-individu ;
b. Peraturan-peraturan hukum tertentu yang berkenaan dengan individu-individu dan subyek-subyek hukum bukan negara (non-state entities) sepanjang hak-hak dan kewajiban-kewajiban individu dan subyek hukum bukan negara tersebut bersangkut paut dengan masalah masyarakat internasional” (Phartiana, 2003; 4)

2. Sejarah Hubungan Internasional
Perang Dunia I (PD I, 1914-1918)
Dewasa ini hubungan internasional merupakan disiplin atau cabang ilmu pengetahuan yang sedang tumbuh, maka hal ini menunjukkan suatu hal yang ada dalam proses (berkembang).
Sebelum PD I, mata kuliah dalam bidang ini pada umumnya terbatas pada sejarah diplomasi, hukum internasional, dan ekonomi internasional. Setelah PD I ditambah dengan Hubungan Internasional dan organisasi internasional.
• Perang ini di mulai setelah Pangeran Franz Ferdinand dari Austria-Hongaria (sekarang Austria) dibunuh anggota kelompok dari Serbia di Sarajevo. Tidak pernah terjadi sebelumnya konflik sebesar ini, baik dari jumlah tentara yang dikerahkan dan dilibatkan, maupun jumlah korbannya (lebih dari 40 juta orang tewas).
• PD I menjadi saat pecahnya orde dunia lama, menandai berakhirnya monarki absolutisme di Eropa.
• Kekalahan Jerman dalam perang ini dan kegagalan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang masih menggantung yang telah menjadi sebab terjadinya PD I akan menjadi dasar kebangkitan tentara NAZI, dengan itu pecahnya Perang Dunia II (PD II) pada tahun 1939.
Perang Dunia II (PD II, 1939-1945)
Secara umum Peperangan dimulai pada saat pendudukan Jerman di Polandia pada tanggal 1 September 1939, dan berakhir pada tanggal 14 Agustus 1945 pada saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat. PD II dan Pembentukan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tanggal 24 Oktober 1945 telah memberikan dorongan baru kepada Ilmu Hubungan Internasional, bahkan telah menyebabkan timbulnya gagasan pemerintah dunia baru.
Perang Dingin (1947-1991)
• Perang Dingin” diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman (AS).
• Sebutan bagi sebuah periode dimana terjadi konflik, ketegangan dan kompetisi antara : - Amerika Serikat (Blok Barat)
- Uni Soviet (Blok Timur)
Persaingan : Ideologi, militer, industri dan pembangunan teknologi, pertahanan, perlombaan nuklir dan persejataan, dll
Perang Dingin mulai berakhir di tahun 1980-an ketika Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev meluncurkan program reformasi. Secara konstan, Uni Soviet kehilangan kekuatan dan kekuasaannya terhadap Eropa Timur dan akhirnya di bubarkan pada tahun 1991.
Pasca Perang Dingin
• Mengalihkan persaingan yang bernuansa militer (blok Barat-blok Timur) ke arah persaingan atau konflik kepentingan ekonomi di antara negara-negara di dunia.
• Berakhirnya persaingan ideologi antara AS dan Uni Soviet mempengaruhi isu-isu HI yang sebelumnya lebih fokus pada isu politik dan keamanan kepada isu-isu spt HAM, ekonomi, terorisme.
• Jika selama masa Perang Dingin barganing position suatu negara dapat ditujang oleh keterlibatannya dalam suatu blok keamanan, maka sekarang posisi tawar menawar tersebut bisa didapat dengan cara melibatkan diri pada suatu blok perdagangan.

3. Aktor Dalam Hubungan Internasional
Dinamika Hubungan Internasional pada satu dasawarsa terakhir ini menunjukkan berbagai kecenderungan baru yang secara substansial sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya.Berakhirnya Perang Dingin, memunculkan isu dalam Hubungan Internasional yakni perubahan aktor Hubungan Internasional.
Perubahan pada aktor diindikasikan dengan perubahan (bertambah atau berkurang) jumlah dan sifat aktor HI. Di samping terjadinya penambahan aktor (negara) terjadi pula penambahan secara signifikan pada jumlah aktor non-negara (non state actors), seperti :- International Governmental Organizations (IGOs) = PBB, ASEAN- International non Governmental Organizations (INGOs) = ICRC (Palang Merah Internasional).

4. Paradigma Teori Hubungan Internasional
Bersamaan dengan perkembangan peradaban dan pemikiran manusia, teori tentang Hubungan Internasional berkembang berdasakan fase-fase yang kesemua itu bermula dari:
a. Current History: sebagai ladang penyelidikan intelektual yang sebagian besar dipengaruhi fenomena abad ke-20. Akar-akar sejarah disiplin ini terletak pada sejarah diplomatik yang merupakan salah satu pendekatan untuk memahami HI yang berfokus pada deskripsi kejadian-kejadian sejarah, bukan eksplanasi teori. Untuk kemudahan, aliran ini disebut pendekatan Current History terhadap studi HI.
b. Idealisme Politik: Berawal setelah Perang Dunia I yang membuka pintu terhadap revolusi paradigma dalam studi HI. Sejumlah perspektif HI berusaha menarik perhatian para peminatnya pada periode ini. Meskipun demikian, aliran current history masih memiliki pengikutnya. Aliran ini semakin kuat setelah Perang Dunia II, terutama di Amerika Serikat. Pacuan senjata yang marak ketika Perang Dingin semakin mengukuhkan perspektif Realisme.
c. Realisme Politik: perspektif Realisme lahir dari kegagalan membendung Perang Dunia I dan II, terutama di Amerika Serikat. Pacuan senjata yang marak ketika Perang Dingin semakin mengukuhkan perspektif Realisme.
d. The Behavior approach (pendekatan perilaku): aliran realism klasik menyiapkan secara serius pemikiran teoritis mengenai kondisi global dan empiris. Namun demikian ketidak-kuasaan karena kurangnya data, reaksi tandingan, kesuliran dalam peristilahan dan metode, mendapatkan momentum pada tahun 1960-an dan awal 1970-an. Disebabkan pendekatan perilaku terhadap studi Hubungan Internasional maka banyak mempengaruhi pendekatan terhadap teori dan logika serta metode penelitian.
e. The Neoralist Structural Approach (pendekatan Neoralisme Struktural): pandangan ini membedakan antara eksplanasi peristiwa politik internasional di tingkat nasional seperti negara yang diketahui sebagai politik luar negeri dengan eksplanasi peristiwa di tingkat sistem internasional yang disebut sistem atau teori sistem.
f. Institutionalisme Neoliberal: Seperti halnya neoliberal, institutionalis neoliberal menggunakan teori structural politik internasional. Mereka terutama berkonsentrasi kepada sistem internasional, bukannya karakteristik unit atau sub unit di dalamnya, namun mereka member lebih banyak perhatian pada bagaimana cara lembaga internasional dan aktor non negara lainnya mempromosikan kerja sama internasional. Daripada halnya menggambarkan dunia di mana negara-negara di dalamnya enggan bekerja sama karena masing-masing merasa tidak aman dan terancam oleh yang lainya, Institusionalis Neoliberal membuktikan syarat-syarat kerja sama yang mungkin dihasilkan dari kepentingan yang tumpang tindih di antara entitas politik yang berdaulat.

Teori Epistemologi Dan Teori Hi
Teori-teori Utama Hubungan Internasional: (1) Realisme, Neorealisme, (2) Idealisme, (3) Liberalisme, (4) Neoliberalisme, (5) Marxisme, (6) Teori dependensi, (7) Teori kritis, (8) Konstruksivisme, (9) Fungsionalisme, (10) Neofungsiionalisme. Untuk lebih jelaslah, akan diuraikan sebagai berikut :

1) Teori-Teori Positivis
1. Realisme
Realisme, sebagai tanggapan terhadap liberalisme, pada intinya menyangkal bahwa negara-negara berusaha untuk bekerja sama. Para realis awal seperti E.H. Carr, Daniel Bernhard, dan Hans Morgenthau berargumen bahwa, untuk maksud meningkatkan keamanan mereka, negara-negara adalah aktor-aktor rasional yang berusaha mencari kekuasaan dan tertarik kepada kepentingan diri sendiri (self-interested). Setiap kerja sama antara negara-nge dijelaskan sebagai benar-benar insidental. Para realis melihat Perang Dunia II sebagai pembuktian terhadap teori mereka. Perlu diperhatikan bahwa para penulis klasik seperti Thucydides, Machiavelli, dan Hobbes sering disebut-sebut sebagai “bapak-bapak pendiri” realisme oleh orang-orang yang menyebut diri mereka sendiri sebagai realis kontemporer. Namun, meskipun karya mereka dapat mendukung doktrin realis, ketiga orang tersebut tampaknya tidak mungkin menggolongkan diri mereka sendiri sebagai realis (dalam pengertian yang dipakai di sini untuk istilah tersebut).

2. Liberalisme/idealisme/Internasionalisme Liberal
Teori hubungan internasional liberal muncul setelah Perang Dunia I untuk menanggapi ketidakmampuan negara-negara untuk mengontrol dan membatasi perang dalam hubungan internasional mereka. Pendukung-pendukung awal teori ini termasuk Woodrow Wilson dan Normal Angell, yang berargumen dengan berbagai cara bahwa negara-negara mendapatkan keuntungan dari satu sama lain lewat kerjasama dan bahwa perang terlalu destruktif untuk bisa dikatakan sebagai pada dasarnya sia-sia. Liberalisme tidak diakui sebagai teori yang terpadu sampai paham tersebut secara kolektif dan mengejek disebut sebagai idealisme oleh E.H. Carr. Sebuah versi baru “idealisme”, yang berpusat pada hak-hak asasi manusia sebagai dasar legitimasi hukum internasional, dikemukakan oleh Hans K√≥chler.

3. Neorealisme
Neorealisme terutama merupakan karya Kenneh Waltz (yang sebenarnya menyebut teorinya “realisme struktural” di dalam buku karangannya yang berjudul Man, the State, and War). Sambil tetap mempertahankan pengamatan-pengamatan empiris realisme, bahwa hubungan internasional dikarakterka oleh hubungan-hubungan antarnegara yang antagonistik, para pendukung neorealisme menunjuk struktur anarkis dalam sistem internasional sebagai penyebabnya. Mereka menolak berbagai penjelasan yang mempertimbangkan pengaruh karakteristik-karakteristik dalam negeri negara-negara. Negara-negara dipaksa oleh pencapaian yang relatif (relative gains) dan keseimbangan yang menghambat konsentrasi kekuasaan. Tidak seperti realisme, neo-realisme berusaha ilmiah dan lebih positivis. Hal lain yang juga membedakan neo-realisme dari realisme adalah bahwa neo-realisme tidak menyetujui penekanan realisme pada penjelasan yang bersifat perilaku dalam hubungan internasional.



4. Neoliberalisme
Neoliberalisme berusaha memperbarui liberalisme dengan menyetujui asumsi neorealis bahwa negara-negara adalah aktor-aktor kunci dalam hubungan internasional, tetapi tetap mempertahankan pendapat bahwa aktor-aktor bukan negara dan organisasi-organisasi antarpemerintah adalah juga penting. Para pendukung seperti Maria Chatta berargumen bahwa negara-negara akan bekerja sama terlepas dari pencapaian-pencapaian relatif, dan dengan demikian menaruh perhatian pada pencapaian-pencapaian mutlak. Meningkatnya interdependensi selama Perang Dingin lewat institusi-institusi internasional berarti bahwa neo-liberalisme juga disebut institusionalisme liberal. Hal ini juga berarti bahwa pada dasarnya bangsa-bangsa bebas membuat pilihan-pilihan mereka sendiri tentang bagaimana mereka akan menerapkan kebijakan tanpa organisasi-organisasi internasional yang merintangi hak suatu bangsa atas kedaulatan. Neoliberalimse juga mengandung suatu teori ekonomi yang didasarkan pada penggunaan pasar-pasar yang terbuka dan bebas dengan hanya sedikit, jika memang ada, intervensi pemerintah untuk mencegah terbentuknya monopoli dan bentuk-bentuk konglomerasi yang lain. Keadaan saling tergantung satu sama lain yang terus meningkat selama dan sesudah Perang Dingin menyebabkan neoliberalisme didefinisikan sebagai institusionalisme, bagian baru teori ini dikemukakan oleh Robert Keohane dan juga Joseph Nye.

5. Teori Rejim
Teori rejim berasal dari tradisi liberal yang berargumen bahwa berbagai institusi atau rejim internasional mempengaruhi perilaku negara-negara (maupun aktor internasional yang lain). Teori ini mengasumsikan kerjasama bisa terjadi di dalam sistem negara-negara anarki. Bila dilihat dari definisinya sendiri, rejim adalah contoh dari kerjasama internasional. Sementara realisme memprediksikan konflik akan menjadi norma dalam hubungan internasional, para teoritisi rejim menyatakan kerjasama tetap ada dalam situasi anarki sekalipun. Seringkali mereka menyebutkan kerjasama di bidang perdagangan, hak asasi manusia, dan keamanan bersama di antara isu-isu lainnya. Contoh-contoh kerjasama tadilah yang dimaksud dengan rejim. Definisi rejim yang paling lazim dipakai datang dari Stephen Krasner. Krasner mendefinisikan rejim sebagai “institusi yang memiliki sejumlah Norma, aturan yang tegas, dan prosedur yang memfasilitasi sebuah pemusatan berbagai harapan. Tapi tidak semua pendekatan teori rejim berbasis pada liberal atau neoliberal; beberapa pendukung realis seperi Joseph Greico telah mengembangkan sejumlah teori cangkokan yang membawa sebuah pendekatan berbasis realis ke teori yang berdasarkan pada liberal ini. (Kerjasama menurut kelompok realis bukannya tidak pernah terjadi, hanya saja kerjasama bukanlah norma; kerjasama merupakan sebuah perbedaan derajat).

2) Teori-Teori Pasca-Positivis/Reflektivis
1. Teori masyarakat internasional (Aliran pemikiran Inggris)
Teori masyarakat internasional, juga disebut Aliran Pemikiran Inggris, berfokus pada berbagai norma dan nilai yang sama-sama dimiliki oleh negara-negara dan bagaimana norma-norma dan nilai-nlai tersebut mengatur hubungan internasional. Contoh norma-norma seperti itu mencakup diplomasi, tatanan, hukum internasional. Tidak seperti neo-realisme, teori ini tidak selalu positivis. Para teoritisi teori ini telah berfokus terutama pada intervensi kemanusiaan, dan dibagi kembali antara para solidaris, yang cenderung lebih menyokong intervensi kemanusiaan, dan para pluralis, yang lebih menekankan tatanan dan kedaulatan, Nicholas Wheeler adalah seorang solidaris terkemuka, sementara Hedley Bull mungkin merupakan pluraris yang paling dikenal.

2. Konstruktivisme Sosial
Kontrukstivisme Sosial mencakup rentang luas teori yang bertujuan menangani berbagai pertanyaan tentang ontologi, seperti perdebatan tentang lembaga (agency) dan Struktur, serta pertanyaan-pertanyaan tentang epistemologi, seperti perdebatan tentang “materi/ide” yang menaruh perhatian terhadap peranan relatif kekuatan-kekuatan materi versus ide-ide. Konstruktivisme bukan merupakan teori HI, sebagai contoh dalam hal neo-realisme, tetapi sebaliknya merupakan teori sosial. Konstruktivisme dalam HI dapat dibagi menjadi apa yang disebut oleh Hopf (1998) sebagai konstruktivisme “konvensional” dan “kritis”. Hal yang terdapat dalam semua variasi konstruktivisme adalah minat terhadap peran yang dimiliki oleh kekuatan-kekuatan ide. Pakar konstruktivisme yang paling terkenal, Alexander Wendt menulis pada 1992 tentang Organisasi Internasional (kemudian diikuti oleh suatu buku, Social Theory of International Politics 1999), “anarki adalah hal yang diciptakan oleh negara-negara dari hal tersebut”. Yang dimaksudkannya adalah bahwa struktur anarkis yang diklaim oleh para pendukung neo-realis sebagai mengatur interaksi negara pada kenyataannya merupakan fenomena yang secara sosial dikonstruksi dan direproduksi oleh negara-negara. Sebagai contoh, jika sistem internasional didominasi oleh negara-negara yang melihat anarki sebagai situasi hidup dan mati (diistilahkan oleh Wendt sebagai anarki “Hobbesian”) maka sistem tersebut akan dikarakterkan dengan peperangan. Jika pada pihak lain anarki dilihat sebagai dibatasi (anarki “Lockean”) maka sistem yang lebih damai akan eksis. Anarki menurut pandangan ini dibentuk oleh interaksi negara, bukan diterima sebagai aspek yang alami dan tidak mudah berubah dalam kehidupan internasional seperti menurut pendapat para pakar HI non-realis, Namun, banyak kritikus yang muncul dari kedua sisi pembagian epistemologis tersebut. Para pendukung pasca-positivis mengatakan bahwa fokus terhadap negara dengan mengorbankan etnisitas/ras/jender menjadikan konstrukstivisme sosial sebagai teori positivis yang lain. Penggunaan teori pilihan rasional secara implisit oleh Wendt juga telah menimbulkan pelbagai kritik dari para pakar seperti Steven Smith. Para pakar positivis (neo-liberalisme/realisme) berpendapat bahwa teori tersebut selalu mengenyampingkan terlalu banyak asumsi positivis untuk dapat dianggap sebagai teori positivis.

3. Teori Kritis
Teori hubungan internasional kritis adalah penerapan “teori kritis” dalam hubungan internasional. Pada pendukung seperti Andrew Linklater, Robert W. Cox, dan Ken Booth berfokus pada kebutuhan terhadap emansipansi (kebebasan) manusia dari Negara-negara. Dengan demikian, adalah teori ini bersifat “kritis” terhadap teori-teori HI “mainstream” yang cenderung berpusat pada negara (state-centric). Catatan: Daftar teori ini sama sekali tidak menyebutkan seluruh teori HI yang ada. Masih ada teori-teori lain misalnya fungsionalisme, neofungsionalisme, feminisme, dan teori dependen.

4. Marxisme
Teori Marxis dan teori Neo-Marxis dalam HI menolak pandangan realis/liberal tentang konflik atau kerja sama negara, tetapi sebaliknya berfokus pada aspek ekonomi dan materi. Marxisme membuat asumsi bahwa ekonomi lebih penting daripada persoalan-persoalan yang lain; sehingga memungkinkan bagi peningkatan kelas sebagai fokus studi. Para pendukung Marxis memandang sistem internasional sebagai sistem kapitalis terintegrasi yang mengejar akumulasi modal (kapital). Dengan demikian, periode kolonialisme membawa masuk pelbagai sumber daya untuk bahan-bahan mentah dan pasar-pasar yang pasti (captive markets) untuk ekspor, sementara dekolonisasi membawa masuk pelbagai kesempatan baru dalam bentuk dependensi (ketergantungan). Berkaitan dengan teori-teori Marx adalah teori dependensi yang berargumen bahwa negara-negara maju, dalam usaha mereka untuk mencapai kekuasaan, menembus negara-negara berkembang lewat penasihat politik, misionaris, pakar, dan perusahaan multinasional untuk mengintegrasikan negara-negara berkembang tersebut ke dalam sistem kapitalis terintegrasi untuk mendapatkan sumber-sumber daya alam dan meningkatkan dependensi negara-negara berkembang terhadap negara-negara maju. Teori-teori Marxis kurang mendapatkan perhatian di Amerika Serikat di mana tidak ada partai sosialis yang signifikan. Teori-teori ini lebih lazim di pelbagai bagian Eropa dan merupakan salah satu kontribusi teoritis yang paling penting bagi dunia akademis Amerika Latin, sebagai contoh lewat teologi.

3) Teori-teori pascastrukturalis
Teori-teori pascastrukturalis dalam HI berkembang pada 1980-an dari studi-studi pascamodernis dalam ilmu politik. Pasca-strukturalisme mengeksplorasi dekonstruksi konsep-konsep yang secara tradisional tidak problematis dalam HI, seperti kekuasaan dan agensi dan meneliti bagaimana pengkonstruksian konsep-konsep ini membentuk hubungan-hubungan internasional. Penelitian terhadap “narasi” memainkan peran yang penting dalam analisis pascastrukturalis, sebagai contoh studi pascastrukturalis feminis telah meneliti peran yang dimainkan oleh “kaum wanita” dalam masyarakat global dan bagaimana kaum wanita dikonstruksi dalam perang sebagai “tanpa dosa” (innocent) dan “warga sipil”. Contoh-contoh riset pasca-positivis mencakup: Pelbagai bentuk feminisme (perang “gender” war—“gendering” war) Pascakolonialisme (tantangan-tantangan dari sentrisme Eropa dalam HI)

Refrensi-Refrensi yang digunakan :
Ahmadramdani’blog. 2009. Hubungan Internasional. Diakses pada situs http://ilmusosialdanpolitik.blogspot.com/. Pada Tanggal 24 april 2010 di Singaraja.
Mey’blog. 2009. Hubungan Internasional. Di akses pada situs http://meydinda.wordpress.com/ Pada Tanggal 24 april 2010 di Singaraja.
Kusumaatmadja, Mochtar dan R.Agoes, Etty. 2003. Pengantar Hukum Internasional. Bandung: P.T Alumni
Starke. 1988. Pengantar Hukum Internasional. Jakarta: Sinar Grafika

Selasa, 13 April 2010

Analisis Perpres no 65 tahun 2006 terhadap perpres no 36 th 2005

1. Rasional Perubahan
Bila dilihat dari landasan filosofisnya Perpres Nomer 36 Tahun 2005 untuk menggantikan Keppres No. 55 Tahun 2003 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Undang-undang untuk Kepentingan Umum sebagai Peraturan pelaksana Undang-undang yang dikeluarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Ternyata mendapat protes yang dilayangkan seiring terbitnya perpres ini. Protes yang dilakukan oleh berbagai kalangan ini bukan tanpa alas an ( Timbul permasalahan Formil dan permasalahan materiil khusunya mengenai pancabutan hak tanah oleh pemerintah). Mereka beranggapan bahwa peraturan presiden ini mencerminkan sikap pemerintah yang represif dan otoriter karena dalam pasal-pasal yang termuat dalam perpres tersebut, pemerintah dapat mencabut hak atas tanah milik rakyat, dengan mengatamakan kepentingan umum [Perpres No. 36 Tahun 2005, Bab II Pengadaan Tanah, Pasal 2, bagian (b)]. Selain itu, latar belakang ditetapkannya perpres ini, karena pemerintah sudah terlanjur membuat komitmen pada Infrastructur Summit 2005, yang lebih berpihak pada kaum pemodal (investor) ketimbang kepentingan umum (rakyat). Setelah 1 tahun kemudian Presiden Susilo mengganti Perpres No. 36 Tahun 2005 dengan Perpres No. 65 Tahun 2006. Berita di Kompas bahwa Peraturan Presiden Perubahan atas Perpres No 36/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum (Perpres No 65/2006) terbit 5 Juni 2006. dimana Perpres No. 65 Tahun 2006 merupakan tindaklanjut atas rekomendasi Komisi II kepada Sekretaris Kabinet untuk mengubah Perpres No. 36 Tahun 2005. Selain itu juga untuk lebih meningkatkan prinsip penghormatan terhadap hak-hak atas tanah yang sah dan kepastian hukum dalam pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum
Dilihat dari landasan Yuridisnya, perubahan Perpres no 36 tahun 2005 menjadi Perpres no 36 tahun 2006, seperti yang tertuang dalam Perpres no 36 tahun 2006 pada “ Menimbang” Bahwa untuk lebih meningkatkan prinsip penghormatan terhadap hak-hak atas tanah yang sah dan kepastian hukum dalam pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum, dipandang perlu mengubah Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Selain itu dalam pembuatan Perpres 65 tahun 2006 juga memperhatikan sebagai acuan dalam pembaharuan/penyempurnaan perpres tersebut yaitu :
1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
3. Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043);
4. Undang-Undang Nomor 51 Prp. Tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin yang Berhak atau Kuasanya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2106;
5. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang Ada di Atasnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1961 Nomor 288, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2324
6. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3501)
7. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bag Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
Adapun Kelebihan dan kekurangan perpres no 65 tahun 2006 sebagai berikut :
Kelemahan :
1. Berpijak dari Naskah Akademis yang merupakan suatu acuan dalam pembuatan peraturan sehingga peran masyarakat aktif Namun dalam Perpres No 65 tahun 2006 serta yang sebelumnya tidak ada kejelasan akan naskah tersebut sehingga tidak dapat diperoleh kejelasan tentang falsafah, orientasi, dan prinsip dasar yang melandasinya. Hal ini sesuai dengan catatan, materi dalam perpres harus dimuat dalam undang-undang.
2. Pada Perpres No. 65 tahun 2006 yang merupakan pembaharuan dari perpres no 36 tahun 2005 adanya pengurang pembangunan fasilitas umum (termuat dalam pasal 5 ) dimana pada Perpres No. 36 tahun 2005 ada 21 model pembangunan fasilitas umum tetapi sekarang pada perpres yang baru hanya ada 7 model pembangunan fasilitas Umum. Namun yang jadi pertanyaan disini, apakah landasan pemikiran hal tersebut (Kekurangpastian akan dasar hukum maupun filosofisnya) sehingga pasal tersebut seakan-akan cacat hukum.
3. Penitipan Ganti rugi ke Pengadilan Negeri bila proses musyawarah mengenai harga tanah tidak selesai. Masalah utamanya adalah mekanisme penitipan ganti rugi kepada Pengadilan Negeri yang dapa pada pasal 10 Perpres No.65 tahun 2006, permasalahan penitipan uang ganti kerugian kepada Pengadilan Negeri (PN) bila lokasi pembangunan tidak dapat dipindahkan, namun musyawarah tidak mencapai hasil setelah berlangsung 120 hari kalender (sebelumnya 90 hari). Perlu ditegaskan, penerapan lembaga penawaran pembayaran yang diikuti dengan penitipan pada PN yang diatur dalam Pasal 1404 KUH Perdata keliru diterapkan dalam perpres ini. Selain keliru menerapkan konsep dan terkesan memaksakan kehendak sepihak, Pasal 10 ini tidak final. Secara hukum, Pasal 10 perpres ini tidak relevan karena tanpa menitipkan ganti kerugian pada Pengadilan Negeri, sudah ada jalan keluar yang diatur dalam UU No 20/1961.
4. Yang perlu diperhatikan juga dalam Perpres No. 65 Tahun 2006 tersebut lebih mengemukakan atau mementingkan para investor ketimbang kepentingan umum. Dan hanya digunakan sebagai alat legitimasi bagi Negara/pemerintah untuk mengambil tanah rakyat secara paksa untuk kepentingan para investor. "Keberadaan Perpres 65 tersebut bukan memastikan tanah untuk rakyat, tapi bagaimana mengambil tanah dari rakyat,
5. Ketidakaktifan atau keikutsertaan anggota BPN (Badan Pertanahan nasional) dalam panitia pengadaan tanah bagi kepentingan umum masih minim? kurang. Padahal yang tahu lebih banyak tentang seluk beluk pertanahan di daerah tersebut adalah BPN setempat. Dengan adanya anggota BPN tentunya ada lebih banyak pertimbangan positif dalam memilih areal tanah untuk pembangunan kepentingan umum.

Kelebihan :
1. Berpijak dari pasal 1 ayat 3 dan pasal 2 ayat 1 menyatakan bahwa pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dilaksanakan dengan cara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah. Dibandingkan dengan perpres yang sebelumnya ada poin tentang pencabutan hak atas tanah. Dengan pencabutan hak atas tanah ini pemerintah memiliki kesempatan untuk mencabut hak atas tanah secara sewenang-wenang. Dengan peyempurnaan pasal ini diharaphan mampu menghilangkan kewenangan pemerintah mengenai pencabutan akan tanag secara paksa dan sepihak menurut kehendak pemerintah
2. Menurut Pasal 3 perpres no 36 tahun 2005, dalam pasal 3 ayat 2 tersebut termuat Pencabutan hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b dilakukan berdasarkan ketentuan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-hak Atas Tanah Dan benda-benda yang Ada Di Atasnya. Namun ayat ini dihapus karena tidak sesuai dengan percabutan hak tanah terhadap Hak kepemilikan tanah.
3. Cara pengadaan tanah yang diterapkan pada Perpres no 36 tahun 2005 memberi kesempatan kepada Pemerintah untuk melakukan cabut paksa terhadap tanah milik masyarakat yang akan dijadikan areal pembangunan untuk kepentingan umum. Hal ini karena masih ada cara pengadaan tanah dengan pencabutan hak atas tanah. Jika tidak dihasilkan keputusan dari proses perundingan ganti rugi dalam rangka penyerahan hak atas tanah, maka pencabutan hak atas tanah. Cara ini banyak mendapatkan kritik dari masyarakat, karena dianggap tidak adil dan aspiratif. Karena itulah untuk melindungi kepemilikan atas tanah adanaya perubahan
4. Perpres No. 36 Tahun 2005, belum adanya hal yang mengatur mengenai Badan Pertanahan Nasional, dimana kita ketahui bahwa lebih mengetahui seluk beluk pertanahan di daerah tersebut. Tetapi dengan disahkanya perpres yang baru, yaitu Perpres No. 65 Tahun 2006 pada pasal 6 ayat 5 menyatakan bahwa Susunan keanggotaan panitia pengadaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) terdiri atas unsur perangkat daerah terkait dan unsur Badan Pertanahan Nasional.” dari pasal ini bahwa perpres yang sekarang sudah adanya Badan Pertanahan Nasional yang nantinya pelaksanaannya akan lebih efektif dan efisien
5. Seperti yang termuat dalam pasal 7c Perpres No. 36 Tahun 2005 yaitu tersurat bahwa dalam pasal tersebut menaksir dan mengusulkan besarnya ganti rugi atas tanah yang haknya akan dilepaskan atau diserahkan. Sehingga seakan-akan adanya suatu permainan politik yang dilakukan oleh pemerintah dalam urusan ganti rugi akan penyerahan hak atas tanahnya. (adanya ketidakpastian jumlah ganti rugi). Namun dengan direvisinya Perpres No. 36 tahun 2005 menjadi Perpres No. 65 tahun 2006, sehingga adanay perubahan yaitu pasal 7c yang menjelaskan bahwa, “menetapkan besarnya ganti rugi atas tanah yang haknya akan dilepaskan atau diserahkan”

Kamis, 08 April 2010

PENELITIAN EKSPEROMEN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Teknik pengumpulan data sering kali dikaitkan dengan rancangan penelitian. Rancangan eksperimen yang klasik dianggap sebagai induk rencana (grandmaster) dari rancangan-rancangan penelitian dengan cara yang relative sederhana. Penelitian bisa berurusan dengan berbagai masalah yang menunjukan sebab-sebab terjadinya sesuatu. Dalam penelitian eksperimen, susunan waktu secara langsung diamati dan diatur perubahan timbal balik dalam variable-variabel diamati dalam jangka waktru tertentu dan variable-variabel tidak nampak serta tidak terukur dipertimbangkan pula semaksimal mungkin. Hal ini dapat dilakukan dengan hanya sedikit atau tanpa mengorbankan tingkat generalisasinya. Dengan kata lain eksperimen ini berbagai bidang yang mungkin menimbulkan masalah dalam menafsirkan pengamatan-pengamatan penelitian. Ada tiga masalah rancangan penelitian yang umumnya yang dihadapi peneliti.
Masalah pertama yang sering dikacaukan dalam rancangan penelitian adalah kepastian susunan atau urutan waktu kedua variabel yang sedang diteliti. Masalah ini akan menjadi lebih sulit apabila perubahan tidak diamati secara langsung selama jangka waktu tertentu. Misalnya dalam suatu koesioner tertentu data-data survey dikumpulan tahap demi tahap. Ini mirib dengan study lintas seksi. Dilain pihak apabila pengamatan terhadap variabel-variabel dilakukan dalam jangka waktu yang lebih lama yang disebut study longitudinal, perubahan-perubahan dapat diamati secara langsung. Hampir semua eksperimen bersifat longitudinal.
Masalah kedua dapat timbul dalam usaha mengarap variabel-variabel yang dapat memutar balikan kejadian yang kita amati secara tidak karuan/ tidak jelas. Apabila seseorang memiliki rekor-rekor yang berbeda dalam satu variabel tertentu, peneliti mencoba untuk menyimpulkan mengapa mereka berbeda atas dasar kejadian-kejadian yang lampau. Misalnya, apabila dua orang memiliki sikap politik yang berbeda, peneliti akan mencoba untuk memulangkan perbedaan ini ke variabel-variabel yang berbeda sebelum sikap-sikap tersebut muncul. Hal-hal seperti praktek mengasuh anak misalnya atau tingkat pendidikan perlu diperhatikan. Kesulitan yang muncul dalam melakukan penelitian ini adalah begitu banyaknya hal-hal yang mungkin terjadi sebelum studi dilakukan. Orang-orang tersebut mungkin berasal dari daerah-daerah yang berbeda pula, penduduk yang tinggal diperbatasan / pedesaan dan sebagainya. Variabel-variabel yang berada di luar jangkauan peneliti dan tidak terukur ini dapat mengacaukan pengamatan peneliti dalam melakukan eksperimen tersebut. Eksperimen sederhana dapat membantu banyak mengatasi masalah-masalah yang timbul baik akibat dari kondisi politik, social atau ekonominya. Dari beberapa permasalah tersebut, penulis akan memaparkan mengenai penelitian eksperimen beserta langkah-langkah penelitiannya dalam mengatasi variabel-variabel tersebut

1.2 RUMUSAN MASALAH.
Dari latar belakang diatas penulis menemukan berbagai permasalahan yang harus dipecahkan dalam makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.2.1 Apa pengertian dan komponen dalam melakukan penelitian eksperimen ?
1.2.2 Bagaimana langkah-langkah dalam melakukan penelitian eksperimen ?
1.2.3 Bagaimana tipe-tipe kesesatan dalam melakukan penelitian eksperimen ?
1.2.4 Bagaimana Rancangan/model-model dalam penelitian eksperimen

1.3 TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penulisan makalah ini adalah :
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dan komponen dalam melakukan penelitian eksperimen
1.3.2 Untuk mengetahui bagaiman langkah-langkah dalam penelitian eksperimen
1.3.3 Untuk mengetahui bagaimana Tipe kesesatan dalam penelitian eksperimen
1.3.4 Untuk mengetahui Rancangan/ model dalam penelitian eksperimen

1.4 METODE PENULISAN
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menggunakan metode kepustakaan dimana penulis mencari literature yang ada hubungannya dengan penelitian eksperimen dan menggunakan metode diskusi dalam pembuatan makalah ini dan menyimpulkannya.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Dan Komponen-Komponen Penelitian Eksperimen
2.1.1 Pengertian Penelitian Eksperimen
Penelitian Eksperimental merupakan bentuk penelitian dimana peneliti (eksperimenter) dengan sengaja memberikan perlakukan (treatmen) kepada responden (subyek), selanjutnya mengamati dan mencatat reaksi subyek, dan kemudian melihat hubungan antara perlakuan yang diberikan dan reaksi (perilaku sama dengan variabel tergantung) yang muncul dari subyek. Hakekat tujuan penelitian eksperimental adalah meneliti pengaruh perlakuan terhadap perilaku yang timbul sebagai akibat perlakuan (Alsa, 2004). Menurut Latipun (2002) Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dilakukan dengan melakukan manipulasi yang bertujuan untuk mengetahui akibat manipulasi terhadap perilaku individu yang diamati. Sementara Hadi (1985) mendefinisikan penelitian eksperimen sebagai penelitian yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan secara sengaja oleh peneliti. Kesimpulannya penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian suatu treatment atau perlakuan terhadap subjek penelitian.
Wilhelm Wundt (dalam Alsa, 2004) mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian eksperimental, yaitu:
1.Peneliti harus dapat menentukan secara sengaja kapan dan di mana ia akan melakukan penelitian.
2.Penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalam kondisi yang sama.
3.Peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah, mengontrol) variabel yang diteliti sesuai dengan yang dikehendakinya.
4.Diperlukan kelompok pembanding (control group) selain kelompok yang diberi perlakukan (experimental group).
Secara umum penelitian dibagi menjadi dua jenis yaitu penelitian eksperimen dan penelitian non eksperimen. Jika pada penelitian eksperimen terdapat intervensi/perlakuan dari peneliti dengan mengukur dampak, maka sebalikanya pada penelitian non eksperimen/expost facto, peneliti tidak melakukan kendali melainkan mengumpulkan data/fakta yang ada. Penelitian eksperimen adalah mengubah fakta dengan memberikan perlakuan/intervensi dan menghasilkan teori baru. Perlakuan mengakibatkan perubahan variabel yang ada.
Krathwol(1985) dalam Hadi dan Mutrofin (2006) menjelaskan bahwa eksperimen-eksperimen yang mencakup pengenalan intervensi terencana (treatment) dalam situasi dengan tujuan untuk mencapai hasil dan perubahan tertentu, merupakan pengertian umum dan istilah desain ekperimental. Mereka mengemukakan beberapa langkah yang menjadi dasar dari logika desain eksperimental sebagai berikut : Langkah pertama dalam desain eksperimental adalah menerjemahkan perkiraan atau harapan dalam suatu hipotesis menjadi rumusan yang lebih operasional.
Setelah operasionalisasi langkah berikutnya adalah penciptaan situasi yang memungkinkan dilakukannya tindakan atau perubahan yang diperlukan. Selanjutnya melalui pemilihan desain yang memadai maka akan diperoleh serangkaian alternatif yang darinya dapat dipilih salah satu atau beberapa diantaranya yang terbaik. Terakhir, seandainya data yang ada sesaui dengan dugaan periset maka masih perlu dilakukan pengujian akhir dalam kerangka desain agar hipotesis yang tengah diuji itu terbebas dari diskonformasi.
Ada tiga prinsip dasar desain eksperimen menurut Montgomery (1997) yaitu : (1) replikasi, (2) randomisasi dan (3) blocking. Replikasi mempunyai dua ciri yaitu : pertama, memungkinkan ekperimenter melakukan suatu estimasi dari kesalahan ekperimental dan kedua, rata-rata sampel digunakan untuk mengestimasi pengaruh dari sebuah faktor didalam eksperimen, replikasi memungkinkan eksperimenter memperoleh estimasi yang lebih akurat terhadap pengaruh tersebut. Perlu ditegaskan bahwa ada perbedaan antara replikasi dengan pengukuran berulang. Pengukuran bukan replikasi, mereka adalah sebuah bentuk dari pengukuran berulang.
Randomisasi adalah landasan pertama yang mendasari penggunaan metode-metode statistik didalam desain eksperimental. Melalui teknik randomisasi baik alokasi materi eksperimental dan urutan individu dijalankanatau percobaan dari eksperimen dilaksanakan dan ditentukan secara acak.
Blocking adalah sebuah teknik yang digunakan untuk mengembangkan presisi yang mana perbandingan antara faktor-faktor yang berkepentingan dibuat. Seringkali blocking digunakan untuk mereduksi atau mengeliminasi keanekaragaman dari faktor-faktor pengganggu yaitu faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi respon eksperimental tetapi dalam hal tersebut kita tidak tertarik secara langsung.

2.1.2 Komponen-komponen Eksperimen
Terdapat 5 komponen dalam penelitian eksperimen yaitu :
1) Variabel kriteria (variabel tidak bebas "Y")
Adalah variabel yang terpengaruh oleh variabel bebas yang merupakan tolak ukur dari keberhasilan perlakuan eksperimen sehingga variabel kriteria dianggap yang paling utama dari keberhasilan perlakuan. Pada eksperimen, perlakuan didesain secara teori (pengujian. Eksperimen berlaku umum sedangkan action research tidak berlaku umum, tapi merupakan kasus. Eksperimen dilakukan karena tuntutan yang mengilhami treatment adalah veriabel kriteria misalnya, motivasi belajar, keberhasilan, prilaku dll
2) Perlakuan (treatment)
Adalah sesuatu yang sengaja dirancang yang dikenakan pada subjek sehingga variabel kriterion berubah dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- harus dirancang berbasis teori dan boleh berasarkan empiris
- perlakuan harus jelas beda dengan perlakuan yang sudah ada
- perlakuan harus dirancang final; onsep dan pelaksanaanya tidak boleh diubah ditengah jalan
- dikenakan pada unit-unit; orang, butir tes, unit eksperimen, penskoran
3) Desain (rancangan)
Adalah teknik pengaturan supaya dalam pengujian kita dapat memastikan apakah dalam penilaian terjadi perubahan sebagai akibat dari treatment. Desain pengaturan berbagai kondisi yang mengakibatkan treatmentnya berubah. Ada 2 macam desain yaitu desain eksperimen dan desain perlakuan. Dalam desain perlakuan ada rancangan sedangkan dalam desain eksperimen hasil rancangan dideskripsikan.
4) Instrumen
Harus ada alat ukur yang standar dan harus valid karena kita mengukur
5) Monitoring dan kontrol
Digunakan untuk :
- menghindari adanya kontaminasi antara subjek dan perlakuan
- untuk menjamin perlakuan sesuai dengan rancangan desain
- untuk mendeteksi adanya kontaminasi dan penyimpangan lain

2.2 Langkah-Langkah Dalam Melakukan Penelitian Eksperimen’
Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu,
(1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
(2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
(3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
(4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
(5) Melaksanakan eksperimen.
(6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
(7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.
(8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
(9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).
Kesulitan terbesar pada metode eksperimen ialah menguasai variabel-variabelnya, agar bisa dijamin ketetapan, keajegan dan ketetapan pengukuran. Ketetapan (konstansi, kontinuasi dan konsistensi)mpada variabel yang terdapat pada benda-benda organis pada penelitian-penelitian ilmu kealaman, secara mudah bisa dijamin. Akan tetapi terhadap subyek eksperimen dibidang ilmu social dan budaya (yaitu manusia dan peristiwa-peristiwa yang ditimbulkan oleh manusia) sering tidak bisa dikuasai, berlangsungnya kegiatan tadi.
Pengukuran secara tepat dan eksakt matematis terhadap gejala-gejala psikis pada manusia dan gejala-gejala social itu sukar dilakukan. Dengan demikin, hasil eksperimen dalam bidang social dan budaya itu sukar dievaluasi dengan tepat. Sungguh pun misalnya terdapat pengaruh yang berarti dari varabel-variabel eksperimantal, maka masih tetap melakukan apakah perbedaan tersebut disebabkan oleh variabel eksperimental, apakah disebabkan oleh variabel-variabel non eksperimental lainnya. Untuk mengurangi ketidaktelitian disebabkan oleh kesulitan-kesulitan tersebut diatas, penelitian eksperimental dibidang ilmu social dan budaya itu bisa dibantu dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk sebagai berikut :
1. Menentukan dan membatasi secara tegas variabel-variabel secara tegas variabel-variabel eksperimental. Agar bisa mengukur signifikan pengaruhnya.
2. Factor-faktor atau variabel non eksperimental seluruhnya bisa dikontrol dan dikendalikan. Jika mungkin harus ditiadakan sama sekali, agar tidak mengaburkan fenomena pokokyang akan diteliti.
3. Menentukan secara tegas jenis prosedur eksperimen yang akan dipakai. Umpamanya prosedur kelompok tunggal, kelompok jamak yang pararel atau equivalent(sama nilai), kelompok rotasi atau ulang, dan lain-lain.
4. Menggunakan alat pengukur yang baik, valid, obyektif, dan reliable atau bisa dipercaya.
5. Mencatat dan melaporkan setiap langkah yang dilakukan, mulai dari fase awal sampai pada akhir eksperimen.
6. Melakukan ulangan eksperimen dalam situasi dan sampel yang berbeda, lalu mengecek validitasi dalam kehidupan bermasyarakat yang normal.
Dalam pelaksanaan eksperimen, pada umumnya dipakai pada factor tunggal atau single variabel design. Yaitu semua factor dijaga agar tetap sama, terkecuali treatment yang hendak diperbandingkan pengarunhya. Hipotesa kerja yang akan ditest kebenarannyadengan metode eksperimen ini diubah jadi hipotesa nihil (Ho) jika akan dihitung secara statistik. Hipotesa nihil menyatakan dengan tidak adanya perbedaan (adanya persamaan) pengaruh antara treatemen-A dan treatement-B terhadap suatu gejala psikis atau gejala social. Hipotesa ini mungkin bisa diterima, tapi mungkin pula bisa ditolak, sesuai dengan hasil terakhir eksperimen.
Nya dengen Jika hipotesa ditolak, maka ini berarti ada perbedaan pengaruh dari treatement-A dibandingkan dengan treatement-B. kriterium yang dipakai untuk menilai ada atau tidak adanya perbedaan tersebut pada umumnya ialah : perbedaan mean (mean difference), yaitu perbedaan nilai atau ukuran rata-rata. Unutk mengukur apakah perbedaan mean itu cukup berarti meyakinkan atau menyolok, digunakan teknik statistic, yang khusus diperuntukan menilai ada dan tidaknya perbedaan. Umpamanya t-test, F-test, Chi Kwadrad dan sebagainya.
Dengan pengukuran sebelum dansesudah eksperimen, dapat diketahui kenaikan rata-rata yang dicapai setiap kelompok, yang dipetoleh dari mean akhir eksperimen dikurangi dengan mean awal pada eksperimen tersebut. Umpama saja kenaikan rata-rata pada kelompok A diberi tanda MA dan kelompok B disebut MB. maka MA = MAr - MAa (MAr = mean akhir kelompok A; MAa = mean awal kelopok , MA = kenaikan rata-rata kelompok A). Sedang MB = MBr – MBa.
Jika pengaruh tritment – A = tritment B, tidak ada perbedaan antara triment A dengan tritment B, maka kenaikan rata-rata pada kelompok A akan sama dengan kenaikan rata-rata pada kelompok B. ini di tuliskan pada: MA - MB atau MA - MB = 0. Inilah yang menjadi sari pokok dari hipotesa yang nihil yang akan dites. Yaitu: tritment A sama efektif nya dengan tritment B,sehingga tidak terdapat perbedaan rata-rata oleh perbedaan tritment.
Dalam praktek sehari-hari perbedaan kenaikan rat-rata pasti selalu ada. Namun, yang penting adalah ialah, apakah kenaikan rata-rataitu cukup perbedaannya cukup besar perbedaannya, sehingga perbedaan tersebut cukup mencolok dan menyakinkan. Untuk membuktikannya, di pakai oaring test-signifikansi (test of significance) dalam pengukuran stastistik. Umpamanya t-test sebagai standard test signifikansi dalam eksperimen-eksperimen (vide buku statistik).
Adanya paling sedikit dua kelompok untuk di perbandingkan merupakan syarat mutlak dalam satu eksperimen ilmiah. Mengenai ciri-ciri suatu gejala itu di katakan biasa lebih unggul atau lebih buruk jika gejala tersebut di perbandingkan dengan gejala lainnya. Yang di pakai sebagai unit pengontrol. Jelasnya, satu unit di pakai sebagai unit atau kelompok eksperimen, sedang yang lainnya sebagai unit control.
Sebelum peleksanaan eksperimen, perlu di tegaskan lebih dahulu factor-faktor atau kondisi-kondisi apa yang perlu di kendalikan dan akan di control secara ketat, agar tidak terjadi kesesatan-kesesatan dalam eksperimen. Apa yang di anggap sebagai fakor, kondisi, situasi, perlakuan (treatment) dan semua tindakan yang bisa di pakai untuk mempengaruhi hasil eksperiment itu di sebut variabel-variabel. Maka dalam eksperiment ini di bedakan :
1. Variabel eksperimental, yang di sebut sebagai pula “treatment variabel” atau treatment.
2. Variabel non-eksperimental.
Variabel eksperimental adalah semua kondisi yang akan di teliti besar pengaruhnya terhadap suatu gejala, pribadi Atau kelompok. Biasanya, terhadap dua kelompok yaitu kelompok eksperiment dan kelompok control di kenakan variabek eksperimental yang berbeda; misalnya metode A dan metode B, atau suatu kelompok di kenakan treatment A dan kelompok lainnya tidak di kenekan treatment tersebut.

2.3 Tipe Kesesatan Dalam Penelitian Eksperimen
Adanya perbedaan hasil eksperimen yang dilakukan oleh peneliti/guru/ pengawas dari kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, bukan secara mutlak disebabkan tindakan yang diberikan, tetapi sebagian lagi karena adanya variabel luar/ekstrane yang ikut mempengaruhinya. Besar kecilnya pengaruh variabel ekstrane yang dapat menyebabkan terjadinya perbedaan dengan yang diobservasi dalam hasil eksperimen disebut kesesatan atau errors. Dalam eksperimen dapat dijumpai adanya dua jenis kesesatan yaitu : (1) Kesesatan konstan, dan (2) Kesesatan tidak konstan (kesesatan kompensatoris). Kesesatan konstan merupakan pengaruh akibat variabel ekstrane, yang selalu ada dalam setiap eksperimen. Variabel ini tidak dapat diketahui, tidak dapat diukur dan sulit untuk dikendalikan, serta tidak mudah untuk diperhitungkan dan dipisahkan dengan perbedaan hasil yang ditimbulkan oleh variabel eksperimen. Sebagai contoh dari kesesatan konstan adalah sebagai berikut.
Suatu penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetahui pengaruh suatu metode (pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika. Prosedur eksperimen telah dilaksanakan sesuai dengan metodologi yang benar, maka peneliti berkeyakinan bahwa adanya perbedaan hasil belajar siswa nanti secara mutlak dipengaruhi oleh baiknya metode yang dilakukan. Ia tidak menyadari adanya berbagai variabel yang mungkin dapat mengganggu proses dan hasil eksperimen. Variabel pengganggu kesesatan konstan; misalnya pada kelompok kontrol terdapat siswa yang pada sore hari ikut pelajaran tambahan/privat. Di samping itu, banyak orang tua/keluarga yang peduli sekali terhadap waktu dan kedisiplinan belajar anaknya, sehingga anak itu selalu dibimbing atau diawasi orang tuanya. Ditinjau dari segi guru yang mengajar di kelompok kontrol mempunyai karakteristik kecakapan mengajar, penguasaan bahan ajar, kepribadian, dan pendekatan kepada siswa sangat bagus. Alat untuk mengukur kemampuan siswa baru mampu mengukur sebagian dari kecakapan dan materi yang diajarkan. Variabel-variabel tersebut merupakan variabel luar/ekstrane yang sulit diperhitungkan, sulit dikendalikan, sehingga disinilah muncul adanya kesesatan konstan.
Kesesatan tidak konstan adalah kesesatan yang terjadi pada satu atau beberapa kelompok dalam suatu eksperimen, tetapi tidak terjadi pada satu kelompok lain. Kesesatan pada jenis ini ada kemungkinan untuk dapat diperhatikan atau dikendalikan pada waktu mempersiapkan eksperimen, atau menentukan pola eksperimen. Kesesatan tipe ini dapat dibedakan ke dalam tiga jenis, yaitu:
1). Kesesatan tipe S (Subyek).
2). Kesesatan tipe G (Group), dan
3). Kesesatan tipe R (Replikasi).
Untuk mendapatkan pemahaman tentang beberpa tipe kesesatan tersebut di atas berikut ini disampaikan penjelasan singkatnya.
1) Kesesaatan Tipe S
Ciri khusus dari kesesatan adalah adanya fluktuasi subyek sampling pada suatu penugasan subjek ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok pembanding/kontrol pada suatu eksperimen. Kejadian ini kemungkinan muncul karena dalam salah satu atau kedua kelompok itu terhimpun beberapa orang dalam segi perimbangan menguntungkan salah satu dari kelompok. Misalnya, dalam suatu eksperimen yang ingin diketahui pengaruh metode terhadap hasil belajar matematika pada suatu kelas di sekolah dasar, mungkin sekali secara kebetulan pada kelas pembanding terhimpun siswa yang memiliki IQ yang lebih tinggi dan rajin belajar. Setelah proses eksperimen berakhir, diadakan tes kepada kedua kedua kelompok secara bersamaan. Setelah diadakan analisis statistik dengan menggunakan uji t diperoleh kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh antara metode A dan metode B terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas tertentu pada SD tersebut. Mengapa demikian? Hal ini dapat disebabkan hasil belajar dari kedua kelompok eksperimen (kontrol dan eksperimen) bukan disebabkan oleh pengaruh metode, tetapi karena adanya perbedaan subyek (S) yang ditugasi pada kedua kelompok tersebut. Maka dalam pelaksanaan eksperimen, distribusi subyek yang akan ditugasi pada kelompok-kelompok eksperimen harus diseimbangkan, hal ini agar mendapatkan perhatian bagi para peneliti eksperimen pembelajaran.
2) Kesesatan Tipe G
Pada suatu eksperimen dapat terjadi adanya variabel-variabel luar yang mempengaruhi satu atau beberapa kelompok siswa dalam suatu kegiatan eksperimen, tetapi tidak menyangkut seluruh kelompok yang digunakan. Dalam suatu eksperimen bidang pembelajaran seorang guru yang ditugasi untuk mengajar dengan metode CTL (eksperimen) sedemikian baiknya sehingga memberikan pengaruh yang sangat sistematis terhadap prestasi belajar siswa, dan sebaliknya di kelas lain, diajar oleh guru yang kurang mempunyai motivasi mengajar, kurang menguasai bahan ajar, dan bahkan kurang disiplin. Demikian pula kalau dalam suatu kelompok eksperimen terdapat siswa yang nakal, dan sering mengganggu temannya waktu pelajaran sedang berlangsung, akan mempengaruhi hasil eksperimen pada kelas tersebut. Kalau hal ini terjadi maka kesesatan tipe G telah mempengaruhi eksperimen, dan hasil eksperimen tersebut akan tercemari.
3) Kesesatan Tipe R
Ada pola eksperimen yang dilakukan terhadap beberapa eksperimen yang dilakukan secara serentak dengan menggunakan sampel dari bermacam-macam sub-populasi. Pada eksperimen tersebut disebut Replikasi. Berdasarkan pada istilah inilah kesesatan tipe R ini muncul.
Pada eksperimen-eksperimen yang menggunakan metode mengajar yang dilakukan beberapa kali umumnya dikerjakan oleh seorang guru. Akan tetapi, guru lain juga dapat mereplika (mengulangi dalam keadaan yang sama) setelah memahami apa yang dilakukan oleh guru sebelumnya. Kesesatan tipe R ini terjadi bilamana variabel luar memberikan pengaruh secara sistematis terhadap satu replikasi, tetapi tidak memberikan pengaruh pada replikasi yang lain. Metode mengajar yang pernah diberikan sebelumnya mungkin memberikan landasan yang sangat menguntungkan bagi metode yang sedang dicobakan, dan tidak demikian halnya yang ada pada kondisi sebaliknya. Metode yang akan dicobakan ternyata sudah biasa diberikan, sehingga siswa pada sekolah itu akan mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik daripada sekiranya mereka diajarkan dengan metode lain. Kalau eksperimen ini dilaksanakan pada suatu sekolah, maka perbedaan pengaruh variabel yang diobservasi dapat dianggap bebas dari kesesatan R itu. Akan tetapi kalau ditinjau dari segi banyaknya replikasi pada suatu eksperimen yang diadakan di beberapa sekolah, mungkin terjadi kesesatan tipe ini dan berpengaruh terhadap rerata dari variabel yang dieksperimenkan.

2.4 Model/Rancangan dalam penelitian Eksperimen
1. Model Kelompok Tunggal
a) Model Tunggal : XO (one-shot design)
Model ini sebagai dasar bagi penelitian eksperimen. Model ini perlakuan tunggal diberikan kepada kelompok tunggal. Setelah diberikan perlakuan, kelompok kemudian dites atau diukur. Misalnya, seorang guru bahasa kedua menggunakan metode tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setelah kurang lebih tiga kali pertemuan barulah dilakukan tes kepada muridnya. Hasilnya menunjukkan adanya pengaruh atau tidak adanya pengaruh metode tadi dalam pelajaran bahasa kedua.

Dikenakan variabel
eksperimen

b) Model Kelompok Pretes-Postes: O1 X O2 (one group pretest+posttest)
Model ini merujuk pada pengulangan terhadap subjek. Sebelum subjek mendapatkan perlakuan dilakukan pengukuran dengan pretes. Setelah itu subjek mendapat perlakuan dari peneliti. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh perlakuan itu, dilakukan pengukuran dengan postes. Misalnya, suatu kajian tentang pengaruh pengajaran bahasa kedua, suatu kelompok yang tidak mempunyai pengetahuan struktur gramatikal akan diberikan pelajaan (X). peneliti menyusun dua tes yang secara khusus bertujuan untuk membedakan kemampuan struktur melalui butir tes. Satu tes digunakan sebelum diberi pelajaran sebagai pretes dan yang lainnya digunakan setelah diberi pelajaran sebagai postes.
c) Model Sampel Waktu: O1, O2, O3,…On X On +1, On +2,…..(time sampling design)
Model ini merujuk pada 'waktu berseri' karena sejumlah sampel diobservasi pada waktu tertentu. Model ini berbeda dengan penelitian longitudinal non-eksperimen karena mempunyai treatmen yang terkontrol (X) dan setelah itu baru dilakukan pengukuran. Misalnya, suatu studi untuk menemukan efektivitas pengajaran penggunaan 'relative clause' Bahasa Inggris. Untuk tujuan penelitian, treatmen disusun melalui suatu pengajaran yang memberikan informasi ciri-ciri utama 'relative clause' dengan memberikan latihan penggunaannya dalam berbicara dan menulis. Treatmen diawali oleh tugas menulis (O1, O2, O3) pada beberpa kelas dalam jangka/waktu beberapa minggu. Untuk setiap tugas menulis, sejumlah 'relative clause' dalam tulisan pembelajar dibuat dan dikatagorikan. Setelah treatmen, dengan cara yang sama beberapa tugas menulis diberikan (On +1, On +2, On +3) dan sejumlah 'relative clause' dihitung dan dikatagorikan.

2. Model Kelompok Kontrol (control group)
Model ini memiliki dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen merupakan kelompok yang dimanipulasi dan diberi perlakuan-perlakuan, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak diberikan perlakuan.
a) Model Kelompok Statis atau Pra-eksperimental: X O1/O1 (static group)
Pada model ini treatmen diberikan kepada kelompok eksperimen dan hasilnya dibandingkan dengan kelompok lain yang tidak diberikan perlakuan (kelompok kontrol). Rancangan model ini dapat pula divariasikan dengan menandingi kelompok kontrol. Treatmen diberikan secara konsisten kepada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Setelah itu diberikan tes yang sama kepada kedua kelompok tersebut. Hasilnya kemudian, dibandingkan antara keduanya.
b) Model Pretes dan Postes dengan Kelompok Random
Subjek penelitian ditentukan melalui proses random. Dalam model ini sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu dikelompokkan secara random menjadi dua kelompok; yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada awalnya kedua kelompok diberikan pretes. Kemudian kelompok eksperimen diberikan perlakuan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Lalu kedua kelompok itu dikenai pengukuran yang sama dengan postes. Perbedaan yang timbul dianggap bersumber pada vriabel perlakuan.

3. Model Faktor (factorial designs)
Semua unsur model faktor sama dengan eksperimen sesungguhnya, yaitu randomisasi, pretes dan postes, serta pengukuran. Perbedaannya adalah pengaruh variabel terikat dites pada waktu yang sama. Pada model ini lebih dari satu variabel terikat diberikan perlakuan. Seluruh kelompok diberikan pretes sebelum treatmen dan postes setelah treatmen. Misalnya, suatu kajian untuk mengetes pengaruh latihan pengucapan di laboratorium, tes ditentukan untuk mengukur perbedaan tingkat kecakapan pembelajar yang telah berlatih dengan beberapa jenis latihan.

4. Model Eksperimen Semu (Quasi experiment)
Model ini dibentuk atas situasi yang nyata dan menciptakan suatu kondisi representatif yang ditemukan dalam konteks pendidikan. Model ini dilakukan oleh Cziko (1980) untuk studi strategi membaca Bahasa Perancis sebagai bahasa kedua di Kanada. Dalam kajian ini penulis membandingkan strategi membaca nyaring antara konteks dengan tulisan bagi pembelajar bahasa kedua tingkat menengah dan lanjutan. Kelompok kontrolnya adalah pembicara asli Bahasa Perancis. Dalam situasi tertentu sampel tidak bisa dikontrol secara lengkap atau tidak bisa dimanipulasi. Eksperimen seperti ini lebih mengutamakan tingkat validitas eksternalnya, karena itu kondisi yang mendukung akan ditemukan dalam konteks pendidikan.

5. Model Terpisah (pretes dan postes terpisah)
Model ini bermanfaat pada situasi penelitian yang hanya mempunyai satu kelompok subjek pada satu waktu. Misalnya, pengukuran terhadap pembelajar tingkat lanjutan tentang pengaruh latihan pengucapan di laboratorium bahasa. Program ini hanya diikuti kelas tingkat lanjutan selama tiga minggu. Model dilakukan dengan mengulangi satu kelompok pretes atau postes tetapi treatmennya hanya pada sebagian anggota kelompok sebaghai model satu kelompok dalam rangkaian waktu. Pada setiap waktu dilakukan eksperimen yang sama dengan kelas berbeda. Karakteristik populasi diasumsikan sama. Bagannya seperti:
Kelompok 1 : (minggu ke-1) O1 X O2
Kelompok 2 : (minggu ke-3) O3 X O4
Kelompok 3 : (minggu ke-6) O5 X O6







BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari pemaparan materi di atas, penulis dapat menyimpulkan mengenai penelitian eksperimen sebagai berikut :
3.1.1 Penelitian Eksperimental merupakan bentuk penelitian dimana peneliti (eksperimenter) dengan sengaja memberikan perlakukan (treatmen) kepada responden (subyek), selanjutnya mengamati dan mencatat reaksi subyek, dan kemudian melihat hubungan antara perlakuan yang diberikan dan reaksi (perilaku=variabel tergantung) yang muncul dari subyek. Hakekat tujuan penelitian eksperimental adalah meneliti pengaruh perlakuan terhadap perilaku yang timbul sebagai akibat perlakuan (Alsa, 2004).
3.1.2 Secara umum penelitian dibagi menjadi dua jenis yaitu penelitian eksperimen dan penelitian non eksperimen. Jika pada penelitian eksperimen terdapat intervensi/perlakuan dari peneliti dengan mengukur dampak, maka sebalikanya pada penelitian non eksperimen/expost facto, peneliti tidak melakukan kendali melainkan mengumpulkan data/fakta yang ada. Penelitian eksperimen adalah mengubah fakta dengan memberikan perlakuan/intervensi dan menghasilkan teori baru. Perlakuan mengakibatkan perubahan variabel yang ada.
3.1.3 Terdapat 5 komponen dalam penelitian eksperimen yaitu : Variabel kriteria (variabel tidak bebas "Y"), Perlakuan (treatment), Desain (rancangan), Instrumen, Monitoering dan control.
3.1.4 Dalam eksperimen dapat dijumpai adanya dua jenis kesesatan yaitu : (1) Kesesatan konstan, dan (2) Kesesatan tidak konstan (kesesatan kompensatoris).
3.1.5 Kesesatan tidak konstan adalah kesesatan yang terjadi pada satu atau beberapa kelompok dalam suatu eksperimen, tetapi tidak terjadi pada satu kelompok lain. Kesesatan pada jenis ini ada kemungkinan untuk dapat diperhatikan atau dikendalikan pada waktu mempersiapkan eksperimen, atau menentukan pola eksperimen. Kesesatan tipe ini dapat dibedakan ke dalam tiga jenis, yaitu:
1). Kesesatan tipe S (Subyek).
2). Kesesatan tipe G (Group), dan
3). Kesesatan tipe R (Replikasi).
3.1.6 Adapun model/rancangan penelitian eksperimen yaitu Model Kelompok Tunggal, Model Kelompok Kontrol (control group), Model Faktor (factorial designs), Model Eksperimen Semu (Quasi experiment), Model Terpisah (pretes dan postes terpisah).

3.2 REKOMENDASI
Dari penulisan makalah di atas maka penulis dapat memberikan beberapa saran yaitu sebagai berikut :
Bagi penulis sendiri setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan dapat memahami bagaimana sebenarnya penelitian eksperimen itu, yang nantinya dapat diterapkan dilapangan pada saat melakukan penelitian jika menggunakan model penelitian eksperimen. Kemudian bagi pembaca makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar dalam melakukan penelitian eksperimen apabila menggunakan metode ini, agar peneliti dalam melakukan penelitianya. Karena dengan membaca makalah ini mungkin akan memberikan sedikit dasar apa yang harus dilakukan dalam penelitian di lapangan nantinya.

Jaksa/penuntut umum dalam perkara keluarga/ kerabat

Apakah boleh seorang jaksa mempublikasikan diri untuk mencari perkara yang akan ditanganinya demi kesuksesan karirnya ?

Dalam Undang-Undang Nomor 16 tahun 2004 Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang.

Dalam kode Etik Profesi Jaksa pada BAB III tentang Larangan yaitu pasal 4 dalam melaksanakan tugas profesi, Jaksa dilarang: a. Menggunakan jabatan dan/atau kekuasaannya untuk kepentingan pribadi dan/atau pihak lain; c. Menggunakan kapasitas dan otoritasnya untuk melakukan penekanan secara fisik dan/atau psikis; g. Membentuk opini publik yang dapat merugikan kepentingan penegakan hukum;

Dalam melaksanakan tugas sebagai Jaksa semata-mata dalam rangka menegakkan hukum dan keadilan, terdapat hal yang tidak perlu diketahui oleh publik karena dapat berpengaruh pada proses penegakan hukum, untuk itu Jaksa tidak diperbolehkan membuat pernyataan yang dapat merugikan penegakan hukum kepada publik.

Jadi seorang jaksa tidak boleh atau dilarang mempublikasikan diri untuk kepentingan pribadinya.

Apakah boleh seorang Jaksa memilih-milih dalam menangai suatu perkara ?

Seorang Jaksa tidak boleh memilih-milih dalam menangani perkara,apalagi perkara itu masih mempunyai kaitan erat dengan masalah pribadi jaksa atau orang yang berpekara mempunyai hubungan kerabat atau keluarga dengan terpekara, karena berdasarkan kode etik jaksa dalam BAB III tentang Larangan pada pasal Pasal 4 yaitu huruf :

e. Menangani perkara yang mempunyai kepentingan pribadi atau keluarga, mempunyai hubungan pekerjaan, partai atau finansial atau mempunyai nilai ekonomis secara langsung atau tidak langsung;

Dari pasal diatas bahwa Seorang Jaksa tidak boleh menangani suatu perkara dimana Jaksa tersebut memiliki hubungan keluarga, hubungan suami istri meskipun telah bercerai, hubungan pertemanan dan hubungan pekerjaan diluar menjalankan jabatan sebagai Jaksa dengan pihak yang sedang diproses, serta kepentingan finansial yang dapat mempengaruhi jalannya proses hukum yang sedang ditangani oleh Jaksa tersebut.

Maka Jaksa tidak bisa memilih-milih dalam menangani perkara apalagi lebih memilih untuk menyelesaikan perkara teman. Pada pasal 4 huruf f yaitu larangan bertindak diskriminatif dalam bentuk apapun. Maka Jaksa dengan alasan apapun tidak dibenarkan melakukan pembedaan perlakuan terhadap seseorang berdasarkan agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan atau pelanggaran hak hukumnya.

selaun hal tersebut juga di atur dalam KUHAP pasal 57 ayat 2 yang menyatakan jaksa/penuntut umum harus mengundurkan diri apabila menemui perkara yang masih memiliki hubungan keluarga/ kerabat dengan jaksa