---WELCOME "SALAM PERSAHABATAN"---

Rabu, 17 Maret 2010

PENGERTIAN ANTROPOLOGI BUDAYA

Antropologi berasal dari kata Yunani yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/ perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.
Kemudian antropologi juga berarti salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.
Banyak para ahli yang memberikan definisi mengenai Antropologi, adapun definisinya adalah sebagai berikut :
a) William A. Havilan : Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
b) David Hunter : Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
c) Koentjaraningrat : Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.
Budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan budaya adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.
Menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar.
Dari definisi tersebut, pengertian budaya adalah pemikiran dan gagasan manusia yang bersumber dari pengalaman-pengalaman hidupnya. Gagasan itu bisa di dalam pikiran saja, dan bisa juga dituangkan dalam tulisan-tulisan.
Dari pengertian antropologi dan budaya tersebut bisa disimpulkan bahwa Antropologi budaya adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam kerangka budaya yang dimiliki, dan juga hubungan diantara manusia dan budaya tersebut. Ilmu antropologi budaya sangat pesat perkembangannya karena budaya manusia selalu berkembang dengan pesat dari waktu ke waktu. Antropologi merupakan bagian antropologi yang mempelajari kebudayaan, bagaimana manusia membentuk dan mengembangkan kebudayaannya. Dalam antropologi budaya, ruang lingkup kajian kebudayaan mencakup mitos, hukum, arsitektur, seni, sistim sosial, adat istiadat dan sebagainya.

2.2 Objek Antropologi Budaya
Objek antropologi budaya dapat dipilah menjadi dua, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sasaran yang menjadi perhatian dalam penyelidikan. Adapun objek material dari antropologi budaya ini adalah manusia. Sasaran penyelidikan pada umumnya juga menjadi sasaran penyelidikan ilmu pengetahuan sosial lainnya; maka objek formallah yang membedakan ciri ilmu pengetahuan antropologi budaya dengan yang lain. Yang dimaksud objek formal adalah cara pendekatan dalam penyelidikan terhadap objek yang sedang menjadi pusat perhatiannya. Secara umum objek formal dari antropologi budaya adalah semua tentang interaksi manusia dan perkembangan kebudayaannya. Ada tiga cara pendekatan dalam ilmu antropologi budaya, yaitu pertama, pengumpulan fakta. Dalam pengumpulan fakta di sini terdiri dari berbagai metode observasi, mencatat, mengolah dan melukiskan fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat hidup. Sedangkan metode-metode pengumpulan fakta dalam ilmu ini adalah penelitian di lapangan (utama), dan penelitian perpustakaan. Kedua, penentuan ciri-ciri umum dan sistem. Hal ini adalah tingkat dalam cara berpikir ilmiah yang bertujuan untuk menentukan ciri-ciri umum dan sistem dalam himpunan fakta yang dikumpulkan dalam suatu penelitian. Adapun ilmu antropologi yang bekerja dengan bahan berupa fakta-fakta yang berasal dari sebanyak mungkin macam masyarakat dan kebudayaan dari seluruh dunia, dalam hal mencari ciri-ciri umum di antara aneka warna fakta masyarakat itu harus mempergunakan berbagai metode membandingkan atau metode komparatif. Adapun metode komparatif itu biasanya dimulai dengan metode klasifikasi. Ketiga, verifikasi. Dalam kaitan ini, ilmu antropologi menggunakan metode verifikasi yang bersifat kualitatif. Dengan mempergunakan metode kualitatif, ilmu ini mencoba memperkuat pengertiannya dengan menerapkan pengertian itu dalam kenyataan beberapa masyarakat yang hidup, tetapi dengan cara mengkhusus dan mendalam.

2.3 Fase-fase perkembangan Ilmu Antropologi Budaya
Menurut Koentjaraningrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut :
a. Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi. Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Para musafir, pelaut dan pendeta tersebut juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa. Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi tersebut.
Dari mempelajari bahan etnografi tersebut, ternyata timbul sikap negatif terhadap suku dan bangsa di luar Eropa diantaranya;
1. Mereka menganggap orang-orang di luar orang Eropa (orang Afrika, Asia, Oseania) sebenarnya bukan manusia sungguh-sungguh, melainkan manusia liar keturunan Iblis, dan lain-lain.
2. Mereka menganggap bahwa masyarakat pribumi merupakan contoh masyarakat murni yang belum mengenal kejahatan seperti yang ada di masyarakat Eropa.
3. Mereka menganggap kebiasaan, adat istiadat, dan benda-benda budaya yang dimiliki orang pribumi adalah keanehan dan layak untuk dipertunjukkan di Eropa. Sehingga muncullah banyak museum-museum budaya pribumi di Eropa.
b. Fase Kedua (tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. Masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya. Pada fase ini, Antropologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah kebudayaan manusia. Mereka menyusun tingkatan bentuk masyarakat dan kebudayaan manusia dengan kebudayaan tertinggi adalah yang dimiliki bangsa Eropa lalu bangsa-bangsa lain di luar bangsa Eropa ada dibawah bangsa Eropa.
Tujuan dari fase kedua ini adalah mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitive dengan maksud mendapatkan pengertian mengenai tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia di muka bumi.


c. Fase Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial. Jadilah pada fase ini antropologi sebagai sebuah ilmu yang praktis bagi kepentingan kolonialisme bangsa Eropa.
d. Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang dijajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa. Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung. Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil merdeka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap Kolonialisme bangsa besar Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun. Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada keprimitifan bangsa diluar bangsa Eropa, melainkan telah beralih kepada penduduk pedesaan pada umumnya, baik mengenai keanekaragaman fisiknya, masyarakatnya, maupun kebudayaannya. Juga suku-suku bangsa daerah pedesaan Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam, Lapp, Albania, dan Irlandia.
Jadi Antropologi pada fase ini mempunyai tujuan akademis dan juga praktis. Tujuan Akademis adalah untuk mencapai pengertian tentang manusia pada umumnya (meliputi bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaannya). Sedangkan tujuan praktis adalah untuk mengembangkan dan membangun kebudayan sebuah suku bangsa. Untuk lebih jelasnya tentang fase-fase perkembangan Ilmu Antropologi bisa dilihat dalam bagan di bawah ini:








2.4 Hubungan Antropologi Budaya dengan Pendidikan Nasional
Membahas hubungan antara antropologi budaya dengan Pendidikan Nasional, berarti tidak lepas dari UU tentang Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003. Hal ini karena Instrumen utama pelaksanaan Pendidikan Nasional di Indonesia adalah UU tersebut. Setelah menelaah UU tersebut, ternyata beberapa hal dalam UU tersebut mempunyai hubungan dengan Antropologi Budaya diantaranya,
- Pendidikan dalam UU No 20 tahun 2003 tersebut diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Bab 1 pasal 1). Yang bisa dilihat dalam pengertian ini adalah pendidikan merupakan sebuah proses dalam kehidupan ini. Dari lahir sampai akhir hayatnya manusia tetap melakukan pendidikan. Dan dalam kerangka pendidikan Nasional unsur keaktifan dan kemadirian dari manusia itu untuk belajar itu wajib ada. Hal ini bisa dihubungkan dengan Antropologi Budaya, dimana proses-proses perkembangan manusia tersebut ternyata diteliti oleh Antropologi Budaya. Bagaimana pola pendidikan manusia dari bayi, muda, lalu dewasa sampai dengan tua itu diteliti oleh Antropologi Budaya sampai dengan timbulnya sebuah kebudayaan dalam sebuah masyarakat. Dengan kita mempelajari Antropologi Budaya kita akan mengetahui fase perkembangan pendidikan manusia.
- Membahas tentang antropologi budaya berarti membahas juga tentang kebudayaan. Dan dalam UU, disebutkan bahwa Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Berdasarkan pasal tersebut, jelas bahwa Antropologi budaya berhubungan dengan Pendidikan Nasional. Kebudayaan bangsa Indonesia yang beragam merupakan kesatuan untuk menjadi sumber dalam pendidikan Nasional. Dan proses dari Kebudayaan itu dipelajari dalam Antropologi Budaya. Contohnya bahasa Indonesia yang sekarang ini merupakan Bahasa Nasional sekaligus bahasa pengantar pendidikan di sekolah-sekolah (Bab 7 pasal 33 UU Sisdiknas), merupakan perpaduan dari bahasa-bahasa asli bangsa Indonesia dan juga bahasa serapan. Proses perpadauan bahasa ini merupakan kajian dari Antropologi budaya.
- Kita tahu wujud Kebudayaan itu ada tiga yaitu Sistem budaya, sistem sosial, dan sistem artifak. Dimana sistem budaya itu merupakan ide atau pola pikir manusia, sistem sosial itu adalah tindakan manusia yang ada di masyarakat, sedangkan sistem artifak adalah karya nyata dari kebudayaan manusia (kebudayaan fisik). Sebenarnya tiga konsep wujud kebudayaan itu juga diterapkan dalam penilaian dalam sistem pendidikan Nasional dimana ada penilaian Kognitif, Afektif dan Psikomotor. Kognitif serupa dengan sistem budaya dimana peserta didik dikembangkan pola pikir, kemampuan Intelegensi, dan kemampuan emosionalnya. Afektif identik dengan sistem sosial dimana yang ditekankan adalah kemampuan untuk bersosialisasi dalam masyarakat, contohnya bagaiamana bersikap yang baik dan bertata krama yang santun dengan orang tua. Psikomotor serupa dengan sistem artifak dimana peserta didik dilatih untuk bisa menghasilkan sesuatu dalam sebuah proses pendidikan. Peserta didik bisa menuangkan konsep yang dikuasai dalam kognitifnya untuk bisa menciptakan sesuatu. Contohnya seorang murid TK bisa membuat kapal mainan dari kertas. Itu adalah bukti seorang anak bisa menuangkan pikiran mereka dalam wujud/ bentuk benda. Jadi konsep penilaian kognitif, afektif, psikomotor itu berasal dari konsep wujud kebudayaan.

0 komentar:

Posting Komentar